Semakin banyak Lembaga pendidikan yang muncul dengan program program unggulan di satu sisi dapat menampakkan keunggulannya. Namun, di sisi yang lain, program program tersebut justru tersistematisasi sehingga mengabaikan sisi manusiawi peserta didik. Hal ini merupakan salah satu problem yang dihadapi oleh modernitas yang semakin jauh untuk memanusiakan manusia.
Di Eropa, sebagai sentra terakhir kemajuan modernitas dengan pengalaman pengalaman tragedi yang mengerikan pada Perang Dunia II telah mengoreksi kembali atas modernitas tersebut. Yang aneh, justru modernitas menjadi acuan berpikir dan bertindak bagi dunia ketiga. Kemajuan kemajuan modernitas yang materialistik dianggap sebagai contoh produk yang harus ditiru. Lihat saja ungkapan Moh Abduh yang menunjukkan keterpukauannya dan hampir tidak melihat kekurangan kekurangan Eropa.
Hilangnya Komunikasi
Hal yang paling mendasar untuk dilakukan adalah membangun komunikasi. Dalam upaya modernisasi sebuah lembaga pendidikan tidak merubah secara fundamental kecuali pada tataran fisik dan fasilitas. Eropa di satu sisi memperluas “pangsa pasar” modernitas ke wilayah wilayah eks-koloni, meskipun tidak semua suku-bangsa Eropa. Namun, yang paling terdepan menerima ekses modernitas tersebut adalah Mesir dan Turki sebagai negara yang memiliki persentuhan langsung dengan Eropa. Relasi Turki dan Mesir bukan pada masa masa abad ke-20 saja, melainkan jauh sebelum itu. Misal, Ketika sejarah dimulai dari hijrahnya Nabi Yusuf as ke Mesir, masa penyelamatan Bani Israil oleh Nabi Musa as, dan seterusnya jauh ke belakang. Artinya, antara Afrika Utara, Asia Barat, dan Eropa sudah mengalami interaksi yang intensif dan ekspansif.
Untap
Satu ledakan emosi (untap), baik diminta atau tidak, akan muncul dengan sendirinya. Perang yang berkecamuk di Timur Tengah pada beberapa dekade terakhir telah menunjukkan bahwa modernitas adalah sesuatu yang dipaksakan. Dipaksakan mengikuti aturan modernitas itu sendiri beserta disiplin disiplinnya. Seperti penerapan “negara modern” yang mementingkan kepada sebuah sistem baru yang lepas dari akar tradisi yang bersifat lebih manusiawi. Masih untung, Indonesia masih memiliki Ki Hajar Dewantara yang masih berpihak pada tradisi pesantren sehingga memandang modernisasi yang diterapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda melalui lembaga pendidikan sekolah formal masih dapat diterima dengan catatan. Berbeda dengan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang coba menerima modernisasi sekolah dengan “mencuplik habis” model budaya modern yang pada masa itu menjadi sebuah trend.
Bagaimanapun, emosi yang terpendam akan meledak dengan sendirinya tanpa diminta, baik secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu, di samping komunikasi, hubungan manusiawi bisa jadi jembatan efektif untuk mendialogkan modernitas bisa diterima atau ditolak.



























