• Terbaru
  • Populer

Sosial Kapital, “Never Ending” Pesantren

10 Agustus 2022

Buya Syakur dan Buya Husein sebagai Tipikal Intelektual Timur dan Barat

11 Januari 2023
Gambar https://gurupaka.blogspot.com/2019/10/catur-warna-penggolongan-profesi-dalam.html

Sering Dijumpai, Sejarah Nusantara Tak Mengenal Kasta

13 November 2022

Menguak Misteri Hutan Larangan

8 November 2022

Melacak Kesundaan Orang Sunda

4 November 2022
Foto Youtube

Membaca Serat Gatoloco Secara Lebih Obyektif

23 Oktober 2022

Mengenal Kata Santri di Indonesia

21 Oktober 2022

Takutlah kepada Allah, Jangan Takut pada Masjid yang Runtuh

19 Oktober 2022

Tujuh Hari Takziyah Wafatnya Prof Azyumardi

23 September 2022

Dan, Al Azhar pun Berkiblat ke UIN Suka

22 September 2022

Nafsu Primordial dan Desakralisasi Negara

20 September 2022

Membincang Makna Makna Demokrasi

19 September 2022

Prof Azyumardi dan Hak Hak Belajar Santri

18 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Senin, 20 April 2026
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
Beranda Nasional

Sosial Kapital, “Never Ending” Pesantren

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
10 Agustus 2022
dalam Nasional
| Waktu baca 3 menit
A A
165
VIEWS

Pada Haul KH Zainuddin Djazuli di Pesantren Plosomojo, Kediri, Buya Said Aqil Siroj menyebutkan potensi besar yang dimiliki oleh pesantren, berupa sosial kapital atau sumberdaya manusia.

Pesantren Rasulullah 

Momen Hijrah menjadi titik tolak umat Islam dalam melakukan kebangkitan, ketika Rasulullah saw mulai menata peradaban (tamaddun, madinah). Pada fase Madinah ini, tauhid tidak menjadi tema penting dalam wacana Kenabian, melainkan mulai menanjak pada aspek aspek ilmu, pengetahuan, tradisi, dan hukum. Maka, tidak heran, jika kemudian ayat ayat hukum banyak diturunkan pada fase Madinah ini. Begitu pula, ilmu dan pengetahuan mulai berkembang tatkala pasukan musuh yang memiliki potensi ilmu seperti matematika dapat bebas dari hukum perbudakan manakala mau menyumbangkan ilmunya kepada penduduk Madinah. Pada fase Madinah ini, aspek peradaban menjadi perhatian utama Rasulullah saw dalam menegakkan “negara” kuat. Dalam praktik sosial, dibuat satu ikatan hukum tetap antarsuku bangsa yang dinamakan “Piagam Madinah”. Meskipun, sebutan “Negara Madinah” masih menjadi perdebatan parasarjana.

Memang, fondasi pertama yang didirikan oleh Rasulullah saw di Madinah adalah ketakwaan dengan mendirikan masjid Quba’. Dari masjid tersebut, tatanan sosial, hukum, dan budaya mulai diimplementasikan ke dalam kehidupan nyata.

ArtikelLainnya

Shiddiqiyyah Bangun 1167 Unit Rumah Layak Huni

21 Agustus 2022
164

Negara Kesatuan Republik Indonesia Samasekali Tidak Pernah Dijajah

21 Agustus 2022
161

Pesantren: Subkultur yang menjadi Perhatian

6 Agustus 2022
152

Sosialisasi Program dan Pembentukan Majelis Mujahid NKRI

4 Agustus 2022
139
Tampilkan Yang Lain

Namun, satu hal penting untuk menjadi perhatian bersama bagi umat Islam dengan kehadiran cikal bakal “pesantren Rasulullah saw”. Pesantren itu diisi oleh ahli ahli ilmu seperti Salman Al Farisi dan Abu Hurairah. Meskipun, jarang terlibat langsung dalam aktivitas aktivitas politik dan perang, Abu Hurairah bisa dikatakan sebagai periwayat hadis Rasulullah saw yang terbanyak.

Di Pesantren Rasulullah ini, mereka hidup penuh dengan keprihatinan untuk menjunjung tinggi keilmuan dan hidup zuhud. Jihad mereka bukan dengan menggunakan pedang selayak sahabat sahabat lainnya, melainkan dengan menghapal Al Quran, berdiskusi, meriwayatkan hadis, serta memperkuat ketahanan batin yang dikenal dalam istilah belakangan sebagai “sufi”. Kelompok yang dikenal dengan sebutan zawiyah (pojok) Ahlus Sufi.

Untuk memperkuat ketahanan ini pula, Rasulullah saw membangun tempat tinggal yang berdempetan dengan masjid sehingga muncul aktivitas aktivitas yang bersifat totalitas dalam membangun tatanan budaya, terutama ilmu dan pengetahuan.

Dimensi Berkelanjutan

Mengapa pesantren di Indonesia belakangan sering diserang dengan isu isu dan pemberitaan pemberitaan negatif oleh media media mainstream? Karena, kekuatan sosial kapital atau الثورة الاجتماعية dalam versi Buya Said hanya dimiliki oleh pesantren. Bukan sekolah. Sebab, sekolah telah membuat jarak sosial antara pelajar dan masyarakat. Sehingga dari aspek ilmu sering tidak “nyambung”. Dari sekolah pula, telah terjadi polarisasi pada masyarakat seperti “umum” versus “agama”, “nasionalis” versus “islam”, “islam” versus “komunis”, “santri” versus “abangan”, dan seterusnya. Padahal, sekat sekat demikian tidak pernah ada di dunia pesantren. Karena, pesantren bersifat inheren dan integral.

Dinamika kemajuan pesantren cukup signifikan, terutama pascareformasi. Pesantren yang dimusuhi sejak masa Belanda dan masa Orde Baru, kini, lebih bisa memberi kontribusi positif bagi budaya, terutama ilmu dan pengetahuan. Pesantren bisa lebih terbuka kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan misalnya dalam penyelenggaraan pendidikan karena bisa dapat saling mengisi. Pesantren memberi kontribusi budaya dan agama kepada negara, sebaliknya negara memberikan kontribusi kemajuan bagi peningkatan program program pendidikan di pesantren. Justru, relevansi madrasah hampir nyaris hilang. Sebagaimana madrasah dibentuk pada mulanya adalah untuk menyatukan persepsi persepsi berbeda dari kalangan internal umat Islam sendiri. Perbedaan perbedaan paham di dalam menafsirkan Al Quran, penerapan fiqh, serta implikasi politik akibat polarisasi yang dihasilkan dari paham paham sekolah.

Dari pesantren, tidak hanya budaya, bahkan elemen elemen budaya yang mendasar dapat menjadi motor penggerak bagi kemajuan bangsa. Tidak sedikit, “stakeholder” yang dihasilkan dari pesantren menjadi modal utama berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang “the founding father” seperti Ir Soekarno, Drs Moh Hatta, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Kahar Muzakkir, dan Ki Hajar Dewantara adalah di antara tokoh tokoh yang dibesarkan dari dunia pesantren.

Tag/kata kunci: Ir. SoekarnoMoh Hattapesantren
Artikel sebelumnya

Lucunya Santri Sukses yang Tak Pernah Kenal Kantor Kuwu

Artikel berikutnya

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 01

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Buya Uki: Pesantren Mati Karena Tidak Ada yang Istiqamah

1 Agustus 2022
146

Indramayu-Net26.id - Perkembangan sebuah pesantren sering mengalami pasang surut, karena biasa tergantung pada satu sosok figur. Hal ini menjadi perhatian serius...

Selanjutnya

Launching Kopi Dingin, Hj Eti Hermawati Harapkan UKM Tumbuh Signifikan

31 Juli 2022
136

Cirebon-Net26.id - Penggerak usaha mikro kecil menengah (UMKM) nasional, Buya Uki Marzuki, memandang Cirebon akan menjadi ikon budaya yang signifikan. Hal...

Selanjutnya

Buya Uki: Kopi Dingin Hindari Dehidrasi di Kota Cirebon

31 Juli 2022
134

Cirebon-Net26.id - Hadir di Kota Wali Cirebon akan disajikan oleh suguhan khas atas keragaman. Keragaman itu tidak saja berupa suku-bangsa saja,...

Selanjutnya

Buya Uki Sambut Dr (HC) dr HR Agung Laksono di Cirebon

30 Juli 2022
134

Cirebon-Net26.id - Dalam suasana pulang kampung yang ceria, pertemuan silaturahim itu berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan di salah satu hotel ternama...

Selanjutnya

Buya Said Aqil Siroj, The Next Little Soekarno?

14 Juli 2022
169

Putra Sang Fajar itu telah memberi kharisma besar bagi suku-bangsa Indonesia di tengah-tengah kancah dunia. Ia menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika di...

Selanjutnya

Buya Uki Dukung Pembatalan Pencabutan Izin Ponpes Shiddiqiyyah

12 Juli 2022
212

Jombang-Net26.id Sebagaimana telah dilansir beberapa media sosial, baik cetak maupun elektronik, upaya pencabutan izin operasional Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah (Ponpes...

Selanjutnya

Berita dengan Citarasa Story Telling, Tren Jurnalis Saat Ini?

6 Juli 2022
159

Pada saat Koran Tempo mulai terbit, pengamat dan masyarakat menilai susastra dapat mewarnai dunia jurnalistik. Tentu, hal ini membawa asumsi, mungkinkah...

Selanjutnya

Presiden Jokowi: Rusia dan Persaudaraan Nusantara

3 Juli 2022
149

Dikisahkan dari seorang pelajar Indonesia yang tak bisa disebut namanya di sini. Pertama, ia mengikuti suatu forum pertemuan pejabat tinggi dengan...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 01

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 02

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Inline Feedbacks
View all comments
Jabar | Net26.id

Jatim | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply