• Terbaru
  • Populer

Menguak Misteri Hutan Larangan

8 November 2022

Buya Syakur dan Buya Husein sebagai Tipikal Intelektual Timur dan Barat

11 Januari 2023
Gambar https://gurupaka.blogspot.com/2019/10/catur-warna-penggolongan-profesi-dalam.html

Sering Dijumpai, Sejarah Nusantara Tak Mengenal Kasta

13 November 2022

Melacak Kesundaan Orang Sunda

4 November 2022
Foto Youtube

Membaca Serat Gatoloco Secara Lebih Obyektif

23 Oktober 2022

Mengenal Kata Santri di Indonesia

21 Oktober 2022

Takutlah kepada Allah, Jangan Takut pada Masjid yang Runtuh

19 Oktober 2022

Tujuh Hari Takziyah Wafatnya Prof Azyumardi

23 September 2022

Dan, Al Azhar pun Berkiblat ke UIN Suka

22 September 2022

Nafsu Primordial dan Desakralisasi Negara

20 September 2022

Membincang Makna Makna Demokrasi

19 September 2022

Prof Azyumardi dan Hak Hak Belajar Santri

18 September 2022
Foto Koleksi Iskak Wijaya

Pesantren Pun Pernah Punya Tentara

15 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Jumat, 28 Agustus 2026
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
Beranda Sejarah dan Sastra

Menguak Misteri Hutan Larangan

Redaksi Ditulis oleh Redaksi
8 November 2022
dalam Sejarah dan Sastra
| Waktu baca 2 menit
A A
143
VIEWS

Ada yang tidak setuju dengan istilah “kearifan lokal” atau “local wisdom”, entah, dengan alasan apa. Namun, yang jelas, mereka punya alasan. Adapun yang dipentingkan oleh pembaca adalah kemudahan dalam mengerti, bukan kesulitan dalam pemahaman. Menguak misteri hutan larangan adalah bukan melihat hutan dari sudut mistis, melainkan coba memahami makna hutan bagi kehidupan ekologi dunia.

Kerajaan Hutan

Hutan bukan saja kerajaan bagi hewan hewan liar. Hutan adalah penyumbang oksigen terbesar bagi kelangsungan hidup manusia. Semakin dikit hutan, maka semakin menipis oksigen di dunia. Oleh karena itu, hutan adalah penting bagi kelangsungan hidup manusia.

ArtikelLainnya

Prostitusi: Kemiskinan ataukah Gaya Hidup?

26 Agustus 2022
142

Ada Hantu Bondong di Tempatku

25 Agustus 2022
144

Pesantren dan Selebritas Intelektual (Bagian Empat)

25 Agustus 2022
136

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

24 Agustus 2022
143
Tampilkan Yang Lain

Namun, tidak semudah memutarbalikkan telapak tangan. Hutan sudah mulai kehilangan fungsinya. Dengan kehidupan manusia yang terus membawa persoalan populasi, maka lahan bagi pertumbuhan hutan pun semakin berkurang.

Sebelum manusia membangun kebudayaan dengan tiang tiang kayu dan tembok menjulang, manusia hidup dan tinggal di hutan yang tidak jauh dari tepian sungai. Mereka tinggal di goa goa untuk melindungi dan mencukupi diri. Dan, manusia dianggap mulai beradab ketika perlahan mereka membuka perkampungan dengan tiang tiang dan kayu kayu papan, hingga tembok tembok bata dan keramik. Ketika manusia sudah mengenal kata rumah yang terbuat dari kayu dan tembok, ketika itu pula manusia perlahan meninggalkan hutan. Walhasil, muncullah konsep kota benteng bertembok. Padahal, ketika menguak misteri hutan larangan akan dijumpai kota hutan merupakan bagian penting dari sejarah manusia. Tidak usah jauh jauh, ketika ditanya, “Dimanakah letak istana Sultan Indragiri di Riau atau istana Kerajaan Demak?” Maka, sejarawan yang kurang membaca akan cepat menjawab, “Tidak ada. Kerajaan Demak adalah “hoax” karena tidak meninggalkan jejak istananya yang dibangun.” Padahal, cerita tutur masyarakat senantiasa mengungkapkan kalau Kerajaan Demak itu ada dalam sejarah.

Arkeologi Hutan

Untuk mengungkap sejarah dan budaya yang pernah hidup, salah satunya adalah melalui membuka situs situs arkeologis. Arkeologi tidak lagi bisa dipahami sebagai “arca” atau “reco” dalam bahasa Jawa, tapi lebih dari itu: setiap rekaman rekaman pikiran dan budaya, baik dalam bentuk software maupun hadrware. Perlu diketahui, kata “arkeologi” memang diambil dari kata “arca”, ilmu tentang arca (arch). jadi, sumber sumber pengetahuannya memang digali dari arca. Sedangkan, arca adalah setiap patung yang diproyeksikan oleh hasil tangan manusia.

Oleh karena itu, arkeologi harus pula membuka diri. Menjadi ilmu yang lebih realistis. Artinya, banyak bentuk proyeksi manusia, baik software maupun hardware, kemudian menjadi arca. Dalam pengertian, arca adalah berhala yang sering dijadikan sesembahan. Padahal, arca atau berhala tersebut adalah hasil dari proyeksi budaya tangan tangan manusia. Arkeologi harus mengembangkan diri tidak hanya sebatas arca arca batu saja, tetapi setiap benda yang diarcakan, termasuk buku dan tulisan, adalah berhala. Tinggal lagi, arca arca atau berhala berhala tersebut mau disembah atau hanya sekadar dijadikan pejangan hiasan saja?

Menguak misteri hutan larangan, seorang arkeolog akan diajak berpikir: sumber pengetahuan bukan saja berasal dari arca atau yang diarcakan saja, melainkan setiap pikiran dan data yang bisa diwujudkan (verbatim), baik dalam bentuk cerita maupun proyeksi.

Dengan demikian, hutan adalah rumah atau istana manusia zaman dahulu. Ketika belum muncul bangunan kayu dan tembok. Seorang arkeolog atau penafsir sejarah, sebaiknya juga memperhatikan hutan sebagai historiografi yang tidak tertulis. Meskipun, sudah banyak istilah istilah seperti hutan larangan, hutan suci, atau baprakesywara. Jadi, tidak perlu lagi bagi seorang sarjana bertanya, “Mana referensinya?” Itu pertanyaan yang gagal!

Tag/kata kunci: Menguak Misteri Hutan Larangan
Artikel sebelumnya

Melacak Kesundaan Orang Sunda

Artikel berikutnya

Sering Dijumpai, Sejarah Nusantara Tak Mengenal Kasta

Redaksi

Redaksi

Artikel Lainnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

20 Agustus 2022
147

Masyarakat Turats Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, pesantren telah melahirkan banyak pelajar, baik melalui metode  warisan (turats) atau metode yang telah...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Satu)

20 Agustus 2022
150

Pendahuluan Berbicara tentang pesantren sama seperti tentang diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tidak asing. Karena, pesantren hidup dan tumbuh dari kedirian...

Selanjutnya

Beberapa Penerbit Tak Bayar Royalti Penulis

20 Agustus 2022
141

Ada sebagian kelompok yang memang memiliki niatan baik untuk mengangkat harkat dan derajat penulis di Indonesia. Sehingga penulis tetap bisa eksis...

Selanjutnya

Keluarga Pak Salim

19 Agustus 2022
166

Kesederhanaan Pak Salim Akhir-akhir ini, sedang viral nama keluarga Pak Salim yang kebetulan berdomisili di kota kecil, tempat kami tinggal. Tepatnya,...

Selanjutnya

Joko Tingkir Ngombe Dawet

18 Agustus 2022
145

Mungkin, kalimat yang lebih tepat adalah “Joko Tingkir Unjukan Dawet”. Jaka Tingkir minum Dawet. Apa yang salah? Tidak ada yang salah....

Selanjutnya

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

18 Agustus 2022
182

Ada yang bertanya, “Sejak kapankah kesenian ludruk mulai dikenal di Jawa Timur?” Tentu, sebagai salah satu corak kesenian, ludruk mulai dikenal...

Selanjutnya

Diri yang Mendamaikan Dunia

17 Agustus 2022
145

Tema yang diangkat adalah tentang diri. Diri dan jati adalah dua dimensi yang bisa sama, juga bisa berbeda entitasnya. Perlu kecermatan...

Selanjutnya

Film nan Senyap di Tengah Keramaian

17 Agustus 2022
144

Ada banyak adegan dalam kehidupan. Ada yang tereflikasikan ke dalam puisi, prosa, atau drama. Dan, perkembangan teknologi telah menghantarkan pada produksi...

Selanjutnya
Artikel berikutnya
Gambar https://gurupaka.blogspot.com/2019/10/catur-warna-penggolongan-profesi-dalam.html

Sering Dijumpai, Sejarah Nusantara Tak Mengenal Kasta

Buya Syakur dan Buya Husein sebagai Tipikal Intelektual Timur dan Barat

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Jabar | Net26.id

Jatim | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply