• Terbaru
  • Populer
Foto Youtube

Membaca Serat Gatoloco Secara Lebih Obyektif

23 Oktober 2022

Buya Syakur dan Buya Husein sebagai Tipikal Intelektual Timur dan Barat

11 Januari 2023
Gambar https://gurupaka.blogspot.com/2019/10/catur-warna-penggolongan-profesi-dalam.html

Sering Dijumpai, Sejarah Nusantara Tak Mengenal Kasta

13 November 2022

Menguak Misteri Hutan Larangan

8 November 2022

Melacak Kesundaan Orang Sunda

4 November 2022

Mengenal Kata Santri di Indonesia

21 Oktober 2022

Takutlah kepada Allah, Jangan Takut pada Masjid yang Runtuh

19 Oktober 2022

Tujuh Hari Takziyah Wafatnya Prof Azyumardi

23 September 2022

Dan, Al Azhar pun Berkiblat ke UIN Suka

22 September 2022

Nafsu Primordial dan Desakralisasi Negara

20 September 2022

Membincang Makna Makna Demokrasi

19 September 2022

Prof Azyumardi dan Hak Hak Belajar Santri

18 September 2022
Foto Koleksi Iskak Wijaya

Pesantren Pun Pernah Punya Tentara

15 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 6 Juni 2026
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
Beranda Sejarah dan Sastra

Membaca Serat Gatoloco Secara Lebih Obyektif

Bagus Dilla Ditulis oleh Bagus Dilla
23 Oktober 2022
dalam Sejarah dan Sastra
| Waktu baca 2 menit
A A
Foto Youtube

Foto Youtube

144
VIEWS

Serat Gatoloco ditulis ketika situasi zaman sedang mengalami dekadensi. Sehingga memunculkan kritik atas situasi sosial yang sedang terjadi. Membaca karya karya sastra, baik sastra pinggiran maupun sastra istana, selama ini hanya dipandang dari sudut “like dan dislike”. Suka dan tidak suka penggemarnya. Padahal, seperti membaca Serat Gatoloco secara lebih obyektif juga sangat diperlukan. Hal ini tentu dilihat dari sisi kondisi sosial yang sedang terjadi.

Sastra Bagi yang Kalah

Ada anggapan jika sastra sejarah ditulis karena kekalahan. Dalam bahasa agama Islam bisa disebut “selemah lemahnya iman”. Karena tidak mampu melawan secara fisik, lalu membuat alibi alibi melalui sastra. Sebagaimana slogan yang populer “ketika jurnalisme dibungkam sastra harus berbicara”.

ArtikelLainnya

Prostitusi: Kemiskinan ataukah Gaya Hidup?

26 Agustus 2022
141

Ada Hantu Bondong di Tempatku

25 Agustus 2022
140

Pesantren dan Selebritas Intelektual (Bagian Empat)

25 Agustus 2022
136

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

24 Agustus 2022
141
Tampilkan Yang Lain

Kemunculan sastra sastra pinggiran (kata lain dari sastra populer) adalah jawaban sosial terhadap situasi politik yang memang sedang mengalami dekadensi. Upaya demi upaya untuk melakukan perubahan dinyatakan tidak berhasil, karena relasi kuasa begitu kuat. Meskipun, dalam tataran tertentu, masih saja ada perlawanan perlawanan sporadis. Untuk itu, membaca Serat Gatoloco secara lebih obyektif pada zamannya tidak kalah penting untuk menilai, menimbang, dan mengambil keputusan yang tepat.

Di dalam kitab Pustaka Raja Raja (kalau tidak salah ingat), disebutkan jika Bhattara (Bra) Wijaya ke-5 memiliki anak yang banyak hingga seratus orang. Bahkan, di dalam buku Philip K Hitti, History of the Arabs (1974) disebutkan kalau Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib memiliki isteri 200 orang sehingga tidak pantas menjadi khalifah. Dan, yang lebih pantas adalah Mu’awiyah ibn Sofyan.

Terlepas dari pro dan kontra buku Philip K Hitti tersebut, membaca sebuah karya tulis bisa dianggap benar dan bisa pula tidak. Namun yang jelas, mesti dikembalikan kepada kondisi sosial politik dari realitas karya tulis tersebut ketika diterbitkan.

Dengan demikian, membaca Serat Gatoloco secara lebih obyektif tidak bisa hanya dilihat dari sebatas benar atau salahnya karya tersebut, melainkan dapat pula dilihat dari ungkapan kritik yang terjadi pada zamannya.

Untuk Apa Karya Sastra

Sudah disebutkan di atas, sastra lahir untuk menjawab kekalahan. Ketika orang atau suatu suku bangsa menang, dia tidak akan melahirkan karya sastra. Namun, dampak dari karya karya sastra tersebut tetap tidak bisa dianggap remeh, karena akan menembus jutaan kepala manusia. Bila dibandingkan dengan peluru senjata tajam, “satu peluru satu kepala”.

Menilai karya sastra dengan membaca Serat Gatoloco secara lebih obyektif, setidaknya akan memberikan informasi dan gambaran, jika Brawijaya V memang tidak disukai oleh zamannya. Terelepas dari keberhasilannya sebagai seorang raja, reaksi dan kritik tajam yang dilakukan oleh masyarakat pinggiran bisa menjadi dan memiliki pengertian umum. Dalam arti, reaksi itu memang benar benar ada. Semisal, kemunculan kesenian Reog digambarkan atas ketidaksukaan masyarakat Ponorogo (Wengker) terhadap Bra Wijaya yang melakukan banyak perkawinan perkawinan politik. Sehingga melumpuhkan ikatan sosial (keluarga) yang lebih dekat.

Namun, strategi politik perkawinan bukan sesuatu yang baru dilakukan oleh Bra Wijaya V, melainkan sudah menjadi tradisi raja raja sebagaimana kehadiran kalangan selir. Dengan memperbanyak istri, politik perkawinan yang dilakukan oleh Bra Wijaya V telah memperluas ekspansi damai yang sedang dilakukan olehnya ketika Majapahit sedang mengalami disintegrasi bangsa. Bra Wijaya V dihadapkan pada pilihan untuk meningkatkan hubungan keluarga raja raja di Bumi Jawa. Minimal, dalam taraf isu dan wacana yang berkembang pada saat itu. Walhasil, Bra Wijaya V tidak hanya dimiliki oleh satu kelompok saja, melainkan milik semua raja raja di Jawa yang mengikatkan perkawinan dengannya atau anak cucunya.

Tag/kata kunci: membaca Serat Gatoloco secara lebih obyektif
Artikel sebelumnya

Mengenal Kata Santri di Indonesia

Artikel berikutnya

Melacak Kesundaan Orang Sunda

Bagus Dilla

Bagus Dilla

*A writer and culture activities*

Artikel Lainnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

20 Agustus 2022
147

Masyarakat Turats Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, pesantren telah melahirkan banyak pelajar, baik melalui metode  warisan (turats) atau metode yang telah...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Satu)

20 Agustus 2022
150

Pendahuluan Berbicara tentang pesantren sama seperti tentang diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tidak asing. Karena, pesantren hidup dan tumbuh dari kedirian...

Selanjutnya

Beberapa Penerbit Tak Bayar Royalti Penulis

20 Agustus 2022
141

Ada sebagian kelompok yang memang memiliki niatan baik untuk mengangkat harkat dan derajat penulis di Indonesia. Sehingga penulis tetap bisa eksis...

Selanjutnya

Keluarga Pak Salim

19 Agustus 2022
165

Kesederhanaan Pak Salim Akhir-akhir ini, sedang viral nama keluarga Pak Salim yang kebetulan berdomisili di kota kecil, tempat kami tinggal. Tepatnya,...

Selanjutnya

Joko Tingkir Ngombe Dawet

18 Agustus 2022
144

Mungkin, kalimat yang lebih tepat adalah “Joko Tingkir Unjukan Dawet”. Jaka Tingkir minum Dawet. Apa yang salah? Tidak ada yang salah....

Selanjutnya

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

18 Agustus 2022
180

Ada yang bertanya, “Sejak kapankah kesenian ludruk mulai dikenal di Jawa Timur?” Tentu, sebagai salah satu corak kesenian, ludruk mulai dikenal...

Selanjutnya

Diri yang Mendamaikan Dunia

17 Agustus 2022
143

Tema yang diangkat adalah tentang diri. Diri dan jati adalah dua dimensi yang bisa sama, juga bisa berbeda entitasnya. Perlu kecermatan...

Selanjutnya

Film nan Senyap di Tengah Keramaian

17 Agustus 2022
144

Ada banyak adegan dalam kehidupan. Ada yang tereflikasikan ke dalam puisi, prosa, atau drama. Dan, perkembangan teknologi telah menghantarkan pada produksi...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Melacak Kesundaan Orang Sunda

Menguak Misteri Hutan Larangan

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Jabar | Net26.id

Jatim | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply