• Terbaru
  • Populer

Memanusiakan Al Quran: Kritik Terhadap Gus Dur

11 September 2022

Buya Syakur dan Buya Husein sebagai Tipikal Intelektual Timur dan Barat

11 Januari 2023
Gambar https://gurupaka.blogspot.com/2019/10/catur-warna-penggolongan-profesi-dalam.html

Sering Dijumpai, Sejarah Nusantara Tak Mengenal Kasta

13 November 2022

Menguak Misteri Hutan Larangan

8 November 2022

Melacak Kesundaan Orang Sunda

4 November 2022
Foto Youtube

Membaca Serat Gatoloco Secara Lebih Obyektif

23 Oktober 2022

Mengenal Kata Santri di Indonesia

21 Oktober 2022

Takutlah kepada Allah, Jangan Takut pada Masjid yang Runtuh

19 Oktober 2022

Tujuh Hari Takziyah Wafatnya Prof Azyumardi

23 September 2022

Dan, Al Azhar pun Berkiblat ke UIN Suka

22 September 2022

Nafsu Primordial dan Desakralisasi Negara

20 September 2022

Membincang Makna Makna Demokrasi

19 September 2022

Prof Azyumardi dan Hak Hak Belajar Santri

18 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Senin, 20 April 2026
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
Beranda Sejarah dan Sastra

Memanusiakan Al Quran: Kritik Terhadap Gus Dur

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
11 September 2022
dalam Sejarah dan Sastra
| Waktu baca 2 menit
A A
153
VIEWS

Upaya sejarah Islam di Nusantara masih menelaah melalui jalur dari pusat ke daerah. Ketika Islam ditulis datang dari Arab kemudian mengenalkan karya ulama ulama “maisntream” ke Bumi Nusantara dengan tujuan berdakwah. Dengan kata lain, sejarah Islam di Indonesia adalah sejarah dakwah. Hal senada diperkuat pula dengan asumsi Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) melalui “Pribumisasi Islam”. Sehingga dapat disimpulkan kalau Islam datang ke Nusantara tetap membawa substansi yang sama dari pusatnya, tapi mengalami sinkronisasi dengan kebudayaan lokal beserta perubahan perubahannya. Misal, di Jawa sudah dikenal wayang dan kisah Ramayana dan Mahabrata. Tapi, oleh Sunan Kalijaga, wayang dan kisah Ramayana dan Mahabarata tersebut dimodifikasi dan disinkronkan dengan substansi Islam. Dengan demikian, “Pribumisasi Islam” menurut Gus Dur adalah “kebutuhan, bukan untuk menghindari polarisasi antara agama dan budaya, sebab polarisasi demikian memang tidak terhindarkan”. Wayang dan kisah Ramayana-Mahabarata adalah budaya, sementara agama adalah sesuatu yang berbeda.

Memahami Pribumisasi Islam Gus Dur tersebut, TG Dzulmanni Al Banjari memberikan catatan tambahan: “Terciptanya akulturasi budaya. Islam tidak memberangus budaya lokal, tetapi masuk secara halus tanpa unsur  kekerasan. Islam menjadi kuat secara substantif, dan budaya lokal pun tetap eksis.”

ArtikelLainnya

Prostitusi: Kemiskinan ataukah Gaya Hidup?

26 Agustus 2022
141

Ada Hantu Bondong di Tempatku

25 Agustus 2022
139

Pesantren dan Selebritas Intelektual (Bagian Empat)

25 Agustus 2022
136

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

24 Agustus 2022
140
Tampilkan Yang Lain

Tafsir Bias Fiqh

Buya Syakur Yasin belum lama ini viral menyebutkan kalau di dalam Kakbah terdapat lukisan Bunda Maria yang dibiarkan saja pada peristiwa “Fath Makkah”. Begitu pula, secara implisit, menyebutkan agama yang dipeluk Siti (Sayyidati) Khadijah sebelum Islam. Sementara pada pendapat yang lain menyebutkan kalau Abdul Muthallib berasal dari suku Khazraj yang berdarah dan memeluk agama Yahudi. Meskipun, memerlukan referensi yang jelas, pendapat ini sedikit banyak telah menambah wawasan sejarah, kalau di Jazirah Arab pada masa itu memang tumbuh budaya yang memang heterogen.

Dalam asumsi yang dibangun oleh Gus Dur, apa yang disebut Buya Syakur melalui pendekatan fiqh, sehingga penafsirannya pun mengandung bias fiqh. Sebagaimana ditulis oleh Gus Dur kemudian; “Dalam proses ini pembauran Islam dengan budaya tidak boleh terjadi, sebab berbaur berarti hilangnya sifat-sifat asli. Islam harus tetap pada sifat Islamnya. Al-Qur’an adalah harus tetap dalam bahasa Arab, terutama dalam shalat, sebab hal ini telah merupakan norma.” Tampak jelas, pendapat Gus Dur ini berbias fiqh yang juga tidak substantif.

Dengan demikian, Gus Dur belum keluar dari pandangan pandangan yang membawa keluar dari mitos sejarah yang dibangun oleh fiqh. Meskipun, dalam banyak hal Gus Dur menawarkan pendekatan pendekatan tasawuf atau sufistik di dalam memahami sejarah dan budaya.

Tag/kata kunci: FiqhGus DurTafsirTasawuf
Artikel sebelumnya

Hijab Bukan Budaya Pesantren

Artikel berikutnya

Ketika Pendidikan Dihibrida

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

20 Agustus 2022
146

Masyarakat Turats Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, pesantren telah melahirkan banyak pelajar, baik melalui metode  warisan (turats) atau metode yang telah...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Satu)

20 Agustus 2022
150

Pendahuluan Berbicara tentang pesantren sama seperti tentang diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tidak asing. Karena, pesantren hidup dan tumbuh dari kedirian...

Selanjutnya

Beberapa Penerbit Tak Bayar Royalti Penulis

20 Agustus 2022
141

Ada sebagian kelompok yang memang memiliki niatan baik untuk mengangkat harkat dan derajat penulis di Indonesia. Sehingga penulis tetap bisa eksis...

Selanjutnya

Keluarga Pak Salim

19 Agustus 2022
165

Kesederhanaan Pak Salim Akhir-akhir ini, sedang viral nama keluarga Pak Salim yang kebetulan berdomisili di kota kecil, tempat kami tinggal. Tepatnya,...

Selanjutnya

Joko Tingkir Ngombe Dawet

18 Agustus 2022
144

Mungkin, kalimat yang lebih tepat adalah “Joko Tingkir Unjukan Dawet”. Jaka Tingkir minum Dawet. Apa yang salah? Tidak ada yang salah....

Selanjutnya

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

18 Agustus 2022
179

Ada yang bertanya, “Sejak kapankah kesenian ludruk mulai dikenal di Jawa Timur?” Tentu, sebagai salah satu corak kesenian, ludruk mulai dikenal...

Selanjutnya

Diri yang Mendamaikan Dunia

17 Agustus 2022
141

Tema yang diangkat adalah tentang diri. Diri dan jati adalah dua dimensi yang bisa sama, juga bisa berbeda entitasnya. Perlu kecermatan...

Selanjutnya

Film nan Senyap di Tengah Keramaian

17 Agustus 2022
144

Ada banyak adegan dalam kehidupan. Ada yang tereflikasikan ke dalam puisi, prosa, atau drama. Dan, perkembangan teknologi telah menghantarkan pada produksi...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Ketika Pendidikan Dihibrida

Buya Said, Gus Dur, dan Alexander the Great

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Inline Feedbacks
View all comments
Jabar | Net26.id

Jatim | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply