NGARIT
Ngarit dalam istilah Jawa—demikian juga Sunda—merujuk pada praktik mencari rumput atau menyabit rumput—biasanya untuk pakan ternak—menggunakan alat yang disebut arit. Bagi saya, yang lahir dan besar di wilayah pegunungan, ngarit bukanlah hal asing dan hanya memerlukan alat sederhana berupa arit atau sabit serta wadah rumput dari karung gelangsing atau keranjang anyaman yang terbuat dari bambu, plus seutas tali. Penyabit rumput hanya tinggal membawa alat alat tersebut dan pergi ke ladang, tepian hutan, atau sawah untuk ngarit.
Namun di Dusun Gleyoran, Sambeng, Borobudur, ngarit terkadang memerlukan keahlian dan teknik berenang. Wilayah dusun yang terletak di pinggir Sungai Progo membuat warga yang memerlukan rumput guna dijadikan pakan ternak terkadang harus menyeberangi sungai guna mendapatkannya.
Mbah Sutar, salah satunya, warga Gleyoran yang terbiasa ngarit di seberang Sungai Progo. Di usianya yang kian senja, ia masih sanggup berenang menyeberangi bentang Sungai Progo selebar lebih dari 40 meter dengan kedalaman rata rata di atas 3 meter.
Ia menyeberangi sungai yang biasa digunakan arung jeram tersebut—sambil membawa rumput hasil ngarit—hanya dengan menggunakan sebuah ban yang dimodifikasi menjadi tempat rumput. Beberapa bilah bambu diikat dan diletakkan di salah satu sisi ban tersebut. Kemudian, ia berenang mendorong ban berisi rumput dan menggunakannya sekaligus sebagai pelampung.
Hal yang menarik adalah teknik berenang melintasi sungai yang dilakukannya. Mbah Sutar tidak berenang secara lurus memotong arus, melainkan mengambil lintasan melintang miring menuju titik pendaratan. Ia memanfaatkan arus sungai untuk membawa tubuhnya ke arah titik tuju, sehingga hanya membutuhkan sedikit tenaga untuk berenang, mengarahkan kemiringan lintasan menuju lokasi pendaratan.
Pengalamannya berpuluh tahun bergaul dengan Kali Progo membuat Mbah Sutar—juga kebanyakan warga lainnya—mengenal dengan baik sungai tersebut. Ia tidak hanya mengetahui jenis ikan apa saja yang ada di sungai itu, melainkan juga karakter arusnya, lekuk tubuh sungai mana yang dalam dan tidak, kedung mana yang banyak ikannya dan di mana habitat ikan tertentu hidup. Ia juga sangat paham kapan waktu air sungai biasanya pasang dan surut, sampai batas mana air meluap, atau di bulan apa biasanya ikan mijah (mudik, bertelur).
Demikianlah, kelekatannya dengan Progo membuat Mbah Sutar tidak hanya mengenali kali tersebut sebagai sungai, melainkan bagian dari hidup dan kehidupannya, laiknya tetangganya sendiri yang ia cintai sekaligus ia hormati.
Pun
Sapun
Paralun
Borobudur, 28 Agustus 2022.















