Belakangan, diberitakan konflik antargang pencaksilat sering terjadi. Bahkan, mulai merambah ke lembaga lembaga pendidikan. Sangat disayangkan, olahraga yang sudah diwadahi ke dalam organisasi secara nasional dan baru saja mendapat tempat terhormat di arena Asian Games 2018 tersebut dinilai tidak sportif, karena mengakibatkan konflik masyarakat secara massal.
Sejarah Pencaksilat di Indonesia
Pencaksilat mulai memiliki peran sejarah Ketika sudah diorganisasikan melalui Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia (IPSI). Pencaksilat sendiri lahir dari kultur masyarakat Nusantara dalam membela pertahanan diri (self-defense). Sama seperti Kung Fu, jurus jurus pencaksilat juga sering diambil dari binatang binatang yang ada di Nusantara. Ada jurus ular, jurus harimau, jurus banteng, jurus gagak, jurus rajawali, dan lain lain. Dilihat dari jurus jurus ini, maka pencaksilat sering dikaitkaitkan dengan olahraga beladiri Kung Fu atau Kun Tao. Ada yang menyebutkan kalau pencaksilat juga lahir dari Kun Tao yang dibawa dari China. Pencak Kun Tao juga tersebar di beberapa wilayah di Nusantara seperti Sumatera dan Jawa.
Menemukan ciri ciri khas pencaksilat memang sangat sulit, karena memiliki kemiripan kemiripan dengan Kung Fu atau Kun Tao tersebut. Sehingga untuk naik level ke kancah pertandingan internasional masih sangat sulit. Hal ini terbukti Ketika pencaksilat tidak dilombakan pada Asian Games 2022 yang lalu di Hangzhou. Artinya, keunikan pencaksilat belum benar benar diakui oleh dunia.
Pada Awalnya Zikir
Secara historis, diakui atau tidak, pencaksilat memang seiring lahir dari pesantren. Terutama, thariqah. Pada masa sebelum Islam datang, kehidupan umat beragama di Nusantara sudah mengenal yoga dan tantra, di samping mantra atau mantram.
Kehidupan pesantren pada mulanya dari kehidupan tempat tempat ibadah seperti masjid, langgar, mushalla, tajug, atau surau. Dari tempat ibadah yang biasa didirikan oleh tokoh agama dan masyarakat tersebut, pengajaran pengajaran pencaksilat berlangsung sebagai organisasi pertahanan dan keamanan kampung.
Setiap gerakan dalam jurus pencaksilat memiliki filosofi yang diambil dari pengalaman dan karakter alam sekitarnya. Sementara Islam disebarluaskan melalui media media budaya dan tradisi yang diangkat ke dalam langgam langgam kesenian. Beragam jenis kesenian daerah seperti reog, jathilan, maupun wayang orang tidak terlepas dari gerakan gerakan kanuragan yang memuat pencaksilat di dalamnya. Maka, pencaksilat kemudian tidak bisa dilepaskan dari jenis jenis alat musik seperti gendang atau seruling misalnya. Peralatan musik yang mudah didapat seperti bambu, kayu, dan kulit binatang.
Thariqah secara lahiriah juga mengajarkan olah nafas dan kanuragan. Dari olah nafas dan kanuragan tersebut kemudian diisi dengan zikir dan upacara pembukaan seperti sega tumpeng, nasi kuning, ayam putih kuning, telur, dan macam macam. Setiap selesai menunaikan jurus jurus yang diajarkan dalam pencaksilat, biasa pula diadakan upacara selamatan dengan memotong ayam atau kambing. Kegiatan kegiatan pencaksilat kemudian menjadi tradisi setiap selepas mengaji bakda Maghrib dan sholat Isya di masjid, mushalla, tajug, atau surau. Maka, perkembangan pencaksilat tidak bisa dilepaskan dari pendidikan pesantren yang mentradisi di masyarakat secara turun temurun.
Dengan demikian, dapat dimengerti mengapa pencaksilat dan pesantren begitu dekat? Karena, melalui kesenian pencaksilat Islamisasi yoga dan mantra berlangsung arif di masyarakat Nusantara. Dengan demikian, pencaksilat bisa dikatakan merupakan salah satu elemen yang membentuk budaya pesantren. Kalaupun belakangan sering terjadi bentrokan atau tawuran antarkelompok pencaksilat, karena sudah mulai meninggalkan filosofi yang turut membangun wujud dan keindahan pencaksilat itu sendiri.
















