Syahdan, sebab tekad sang kelinci guna mempersembahkan yang terbaik terhadap siapa saja, sebuah ujian pun dihadapkan kepadanya. Sakra menjelma menjadi seorang brahmana yang kelaparan, menjumpai sang kelinci dan kawan kawannya di sebuah hutan.
Demi menjumpai orang yang kelaparan, beberapa kawan sang kelinci pun mempersembahkan berbagai penganan yang biasa mereka makan, semisal ikan, daging, dan buah buahan. Tinggal sang kelinci yang termangu, memikirkan apa yang mesti diberikan, sedangkan penganannya adalah rerumputan.
Namun, sebab tekad kuatnya untuk memberikan yang terbaik terhadap siapa saja, akhirnya ia pun meminta kawan kawannya menyalakan api. Ia berpikir bahwa rerumputan bukanlah makanan bagi sang brahmana, dan panganan terbaik baginya adalah dirinya sendiri, daging kelinci. Karena itu, ia lantas melompat ke dalam api guna menjadikan dirinya sendiri sebagai jamuan persembahan bagi sang brahmana.
Namun demikian, pada akhirnya, ia tetap hidup dan tak terbakar. Api ujian itu tak menyentuhnya, dan sang Sakra telah membuktikan bahwa tekad sang kelinci bukanlah omong kosong belaka.
Demikianlah. Menekuri kisah Sasa sang kelinci pagi ini di hadapan seutas janur yang telah menjelma dolanan berbentuk binatang, saya mendapati bahwa perjalanan diri ini masih jauh dari kebaikan. Betapa si janur ini—seperti halnya sang kelinci—telah bersedia mengorbankan dirinya untuk digunakan sebagai dolanan, media bagi anak anak manusia belajar berkreasi, mengenal alam, bahkan mengenal penciptanya. Lalu, apa yang telah saya perbuat dan persembahkan dalam kehidupan?
Lembah Sileng Purba, Ujung Mangsa Sadha, 17 Juni 2022
Bermain janur tidak hanya bersenang senang, melainkan juga belajar mengenai bentuk, teknik melipat, dan menggulung, juga soal bagaimana menghasilkan bunyi dari paduan bentuk dan udara yang dihembuskan hingga menghasilkan getar yang menjadi muasal bunyi. Dalam hal ini, tidak hanya motorik halus dan kreatifitas yang dilatih, melainkan juga ketekunan dan konsentrasi.
Bermain dan belajar bersama alam
19 Juni 2022
Menari bersama Semesta
Gerak semu matahari melahirkan peristiwa soltis, di mana pada tanggal 21 Juni ia berada di titik paling utara khatulistiwa untuk kemudian berbalik menuju titik selatan. Pergerakan ini kemudian memberi dampak terhadap bumi, terutama perubahan musim, yang tentu saja mempengaruhi ketersediaan air, kesuburan tanah, waktu tumbuh tanaman maupun berkembangbiaknya binatang.
Leluhur orang Jawa telah lama memahami hal ini. Karenanya, mereka menjadikan hari pertama pergerakan matahari itu sebagai penanda tanggal satu bulan pertama pada kalender pertanian yang dikenal dengan istilah mangsa. Pengetahuan mengenai mangsa inilah yang kemudian disimpan dalam, salah satunya, kesenian gatholoco. Kesenian berupa tarian dan nyanyian yang diiringi alat musik ini tak hanya berguna sebagai hiburan, melainkan upaya pewarisan pengetahuan leluhur mengenai dampak dari siklus putaran matahari, bumi, bebintang serta planet-planet lainnya terhadap kehidupan di bumi, sehingga manusia harus beradaptasi untuk bisa selamat dan selaras dengan alam melalui hitungan pranata mangsa ini.
Putaran semua wujud itu dalam irama siklus yang ada seolah dihadirkan dalam gerak tari gatholoco ini, suatu upaya manusia menyelaraskan diri dengan alam. Segerak, seirama, menari bersama semesta.
Yuk merapat teman teman, mumpung free!
21 Agustus 2022



























