Pada umumnya, paramufasir Al Quran mengartikan kata Al Din (الدين) dalam ayat ke-4 surat Al Fatihah: مالك يوم الدين, sebagai “hari pembalasan” alias يوم الجزاء. Padahal, tidak demikian. Al Quran itu diturunkan untuk menjawab realitas. Kata Al Din tersebut bisa dimaknai “agama”, “hari agama” ditegakkan. Artinya, amal di dunia ini memiliki nilai manfaat untuk manusia yang hidup di dunia ini, tanpa harus tahu manfaatnya.
Membentuk Opini Umum
Tujuan dari penggunaan ilmu manthiq (logika) adalah untuk penyeragaman pandangan umum. Bagaimana pandangan masyarakat bisa diseragamkan? Tentu, dengan rumusan pasti dari silogisme yang dibangun dari premis mayor dan premis minor sehingga dapat diambilkan satu kesimpulan, konklusi. Konklusi itu yang dijadikan pedoman umum. Misal,
semua tumbuhan membutuhkan air (premis mayor).
Akasia membutuhkan air (premis minor).
Akasia merupakan tumbuhan yang membutuhkan air (konklusi).
Pertanyaan kemudian, bagaimanakah dengan tumbuhan yang tidak membutuhkan air atau tumbuhan yang bisa menyimpan air seperti kurma di padang pasir? Jawabannya adalah tidak semua konklusi (kesimpulan) itu jawaban yang benar. Perlu analisis. Dengan kata lain, pendapat mayoritas belum tentu benar semuanya, tapi setiap orang diperlukan untuk menganalisa benar salahnya. Bisa jadi pendapat mayoritas tersebut memang dibentuk, di-framing. Terutama, pada masa media sosial zaman sekarang. Ketika media “mainstream” dapat melakukan apa saja untuk menjatuhkan atau membunuh karakter seseorang dengan mengabaikan prosedur yang berlaku.
Konsisten pada Makna Awal
Falsafiabilitas adalah cara kerja berpikir apabila logika (manthiq) mengalami kebuntuan dalam menjawab persoalan persoalan. Perlu kecerdasan di sini. Jangan hanya karena jawaban mentok kemudian persoalan digantung (mawquf). Harus ada “jalan keluar” atau “a problem solving”.
Berhentinya jawaban (digantung) sering terjadi di masyarakat. Seperti mencari dalil untuk mendoakan orang mati. Apakah doa tersebut sampai atau tidak kepada orang yang didoakan tersebut? Bagi kalangan Wahabi-Salafi, mendoakan orang mati tidak akan sampai doanya. Sebagaimana Al Quran surat Al Najm ayat 39;
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
Bagi manusia, tidak akan memperoleh (hasil) kecuali yang sudah diusahakannya.
Dari ayat tersebut, dapat disimpulkan: mengirim bacaan surat Al Fatihah, membacakan tahlil, dan mendoakan orang mati adalah perbuatan sia sia. Karena, hanya amal usaha si mayit saja yang bisa mendapatkan ganjaran dari hasil amal usahanya sendiri. Ini logika manthiq.
Namun, tidak demikian kesimpulan pendek yang bisa diambil. Masih banyak ayat ayat lain yang bisa menjelaskan dan menganalisa ayat tersebut. Dalam hal apakah seseorang hanya mendapatkan ganjaran dari hasil usahanya?
Secara umum, mungkinkah seseorang mendapatkan hadiah dari hasil usaha orang lain? Misal, seseorang memancing di sungai, kemudian mendapat dua atau lebih ekor ikan. Mungkinkah dia menghadiahkan satu atau semua ikan yang diperoleh dari memancing tersebut untuk orang lain yang tidak dikenalnya?
Dengan demikian, perlu penjelasan secara terperinci, terutama ayat ayat doa di dalam Al Quran yang ditujukan kepada orang banyak (jamak) seperti doa Nabi Adam as pada surat Al A’raf ayat 23;
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.
Pada ayat doa Nabi Adam as tersebut disebutkan tobat Nabi Adam as bersama kaumnya: Nabi Adam as berdoa tidak untuk dirinya sendiri, tetapi juga secara bersama sama.
Sehingga pada alam yang tidak mengenal dimensi ruang dan waktu, Al Quran dalam surat Al Waqiah ayat 69 menyebutkan;
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ ٱلنَّشْأَةَ ٱلْأُولَىٰ فَلَوْلَا تَذَكَّرُونَ
Sungguh kamu telah mengetahui (pada alam) penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak berpikir?
Ayat tersebut jelas mengajak manusia untuk berpikir tentang alam yang tidak memiliki dimensi ruang dan waktu. Pada kata “النشأة الأولى” di dalam rahim, janin melakukan protes kepada Allah Taala. “Ya Allah, mengapa kami diberi mata, padahal di dalam rahim ini gelap gulita? Ya Allah, mengapa kami dibuatkan tangan padahal kami tidak bisa meraih apapun?
Janin janin yang masih di dalam rahim tersebut belum tahu kegunaan dan manfaat mereka diberikan mata dan tangan, dan seterusnya. Pada penciptaan pertama, manusia tidak tahu apa apa sehingga ia terlahir ke dunia. Begitu pula, di dunia, umat Islam dianjurkan berbuat baik, bersedekah, beribadah, dan beramal salih lainnya, karena tidak mengerti manfaatnya. Realitas di dunia adalah tatanan (الدين) yang tidak memuat dimensi ruang dan waktu yang senantiasa mengajak berpikir dan berzikir. Wallahul Musta’an.















