• Terbaru
  • Populer

Biografi KHA Musta’in Syafiie (1)

20 Agustus 2022

Buya Syakur dan Buya Husein sebagai Tipikal Intelektual Timur dan Barat

11 Januari 2023
Gambar https://gurupaka.blogspot.com/2019/10/catur-warna-penggolongan-profesi-dalam.html

Sering Dijumpai, Sejarah Nusantara Tak Mengenal Kasta

13 November 2022

Menguak Misteri Hutan Larangan

8 November 2022

Melacak Kesundaan Orang Sunda

4 November 2022
Foto Youtube

Membaca Serat Gatoloco Secara Lebih Obyektif

23 Oktober 2022

Mengenal Kata Santri di Indonesia

21 Oktober 2022

Takutlah kepada Allah, Jangan Takut pada Masjid yang Runtuh

19 Oktober 2022

Tujuh Hari Takziyah Wafatnya Prof Azyumardi

23 September 2022

Dan, Al Azhar pun Berkiblat ke UIN Suka

22 September 2022

Nafsu Primordial dan Desakralisasi Negara

20 September 2022

Membincang Makna Makna Demokrasi

19 September 2022

Prof Azyumardi dan Hak Hak Belajar Santri

18 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 6 Juni 2026
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
Beranda Tafsir Genre KHA Musta'in Syafiie

Biografi KHA Musta’in Syafiie (1)

Jatim Net26 Ditulis oleh Jatim Net26
20 Agustus 2022
dalam Tafsir Genre KHA Musta'in Syafiie
| Waktu baca 4 menit
A A
246
VIEWS

Ada yang menyangsikan, apakah KHA Musta’in Syafiie benar benar seorang mufasir? Jika memang benar seorang mufasir, maka apa sajakah karya karyanya?

Hal ini memang sering menjadi perdebatan serius bagi kalangan sastrawan dunia. Bahkan, kalangan sejarawan menyebutkan: ”Tidak ada karya (tertulis) maka tidak ada sejarah”. Artinya, sejarah dalam pengertian ini adalah yang tertulis, sedangkan yang tidak tertulis dapat dikatakan bukan sejarah. Sehingga sejarah Nusantara pada abad ke-15 Masehi dianggap hilang atau gelap, karena tidak ada bukti bukti peninggalan tertulis.

ArtikelLainnya

Kepiawaian KHA Musta’in Syafiie Menafsirkan Diksi Diksi Al Quran

27 Juli 2022
160
Tampilkan Yang Lain

Memang, baik susastra, sejarah, maupun tafsir adalah ilmu serumpun yang tidak bisa terlepas dari teks. Meskipun, parailmuwan sadar jika teks adalah belenggu makna. Masih banyak sejarah yang tidak tertulis. Kalaupun tertulis mesti ada yang tercecer. Artinya, tekstualitas adalah bukan satu satunya kebenaran yang dapat diambil sehingga memerlukan tafsiran tafsiran.

Demikian, untuk merepresentasikan KHA Mustai’in Syafiie sebagai seorang mufasir memerlukan telaah yang tidak mudah, karena faktor tulisan (skrip) tersebut. Meskipun, pada dasarnya, ia adalah seorang penulis.

Biografi KHA Musta’in Syafiie berikut disarikan dari skripsi M Junaidi yang dapat redaksi Net26.id sajikan kepada khalayak.

Lahir dan Masa Belajar

KHA Musta’in Syafiie, selanjutnya ditulis Ahmad Musta’in, adalah salah satu mufasir terpenting di Indonesia belakangan ini. Hanya karena, ia tinggal di Pesantren Tebuireng dan tidak tinggal di ibukota negara, namanya tidak sepopuler seperti Prof. Dr. KH Quraish Shihab atau dai dai selebritas televisi lainnya. Ahmad Musta’in tetap hidup dalam lingkup kognitif pesantren yang menaunginya. Ia hafal Al Quran dari gurunya Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar, pendiri Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng dan KH Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Walisongo Cukir. Di bidang ushul fiqh dan musthalah hadis, ia merupakan murid kesanyangan KH Syansuri Badawi. Oleh karena itu, metode tafsirnya lebih mendekati pada aspek perbandingan antarmazhab (muqaranah al madzahib). Ahmad Musta’in mendasarkan kualitas spesialisasi keilmuannya pada tafsir ayat ayat ahkam.

Dari hasil wawancara M Junaidi, Ahmad Musta’in lahir tanggal 3 Desenber 1955 di Desa Paloh, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Ayahnya bernama Syafiie, seorang nelayan yang wafat ketika Ahmad Musta’in berusia tujuh tahun. Sedangkan ibunya bernama Ma’shumah binti Muthohhar, seorang ibu rumah tangga, wafat pada 2001.

Ahmad Musta’in kecil memulai aktivitas keilmuan dari kampung halamannya pada 1968. Ia menamatkan pendidikan dasarnya di M.I Muhammadiyah Paloh (satu satunya pendidikan sekolah Madrasah Ibtidaiyah di desanya kala itu).

Ahmad Musta’in kecil sudah dikenal “resikan” dan rajin olahraga. Maka, tidak heran, jika kemudian kulitnya terlihat putih dan bersih. Tidak seperti kebanyakan anak pantai yang berkulit gelap karena terbakar matahari. Olahraga kegemarannya adalah sepakbola, bulutangkis, dan catur. Ketiga macam olahraga tersebut dikuasai olehnya dengan baik. Hal ini tampak dari ketangkasan dan kecerdasannya ketika menguraikan ilmu eksakta dengan gamblang seperti faraid (ilmu bagi waris) yang rumit.

Ahmad Musta’in melanjutkan pendidikan menengahnya di Madrasah Mu’allimin Nahdlatul ‘Ulama Mazra’atul ‘Ulum, Paciran, di daerah kakeknya yang berjarak kurang lebih 12 KM dari rumah orangtuanya selama 4 tahun. Akan tetapi, ijazah pendidikan menengah yang berhasil diraihnya adalah melalui ujian persamaan Madrasah Tsanawiyah Negeri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang sebagai peserta extraine pada 1971.

Sebagai anak pesisir yang serba kekurangan karena ditinggal wafat ayahnya, Ahmad Musta’in tidak langsung meneruskan pendidikan tingkat atasnya. Ia membantu pamannya (adik kandung ibunya) untuk berdagang kain di pasar selama satu tahun. Pamannya, Muhbib bin Muthohhar, adalah seorang hamil Al Quran, pengasuh Pondok Pesantren Huffadh Raudlatil Quran di Desa Dungus, Kabupaten Madiun.

Selang setahun, Ahmad Musta’in kemudian melanjutkan Pendidikan formalnya di Pesantren Tebuireng, Jombang. Oleh pamannya, ia mendapat catatan harus menghafal Al Quran sebagaimana dirinya. Sebab, kalua tidak mau, ia tidak akan mendapat bantuan biaya. Jadi, syarat untuk melanjutkan pendidikan tingkat atas tersebut adalah menghafal Al Quran.

Pada 1973, Ahmad Musta’in pun mendaftar untuk menjadi santri di Pesantren Tebuireng dan masuk Madrasah Aliyah. Ia sebelumnya tidak tahu guru yang akan mengajarnya menghafal Al Quran. Oleh pamannya, ia diberitahu agar berguru kepada KH Adlan Aly (1900-1990 M).

Satu hal yang dibanggakannya, sebagai santri yang pernah menjadi tukang masak nasi di dapur umum pesantren itu, ketika menginjak akhir kelas dua Aliyah, ia sudah dapat menyelesaikan hafalan Al Quran dengan fasih kurang dari dua tahun walaupun harus dibarengi dengan sekolah di Madraasah Aliyah di Pesantren Tebuireng.

Ketika menginjak tahun kedua di Pesantren Tebuireng, Ahmad Musta’in melanjutkan pindah ke Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng Jombang yang diasuh oleh Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar (1925-1993). Uniknya, ketika itu ia diberi waktu khusus, berbeda dari santri santri MQ lainnya untuk menyetorkan hafalan Al Quran. Ia memulai dari juz satu ketika jam istirahat Madrasah Aliyah berlangsung. Karena, ketika itu, untuk santri Madrasatul Quran, hanya Ahmad Musta’in penghafal Al Quran yang membarengi dengan sekolah. Akhirnya, di hadapan kedua kiai (KHM ‘Adlan Aly dan KHM Yusuf Masyhar), Ahmad Musta’in dapat menghafal Al Quran dengan fasih dan lancar.

Menarik untuk disimak, bahwa pada 1975 dalam Wisuda Hafidh pertama di Pondok Pesantren Madrasatul Quran, Ahmad Musta’in menjadi salah seorang peserta sekaligus sebagai Ketua Panitia acara tersebut. Menjadi Ketua Panitia pada acara Wisuda Hafidh merupakan suatu penghargaan untuknya, karena ia dianggap layak dan mampu dibandingkan dengan santri santri lainnya.

Adapun prosesi acara wisuda tersebut diadakan sebagaimana halnya wisuda sarjana di perguruan tinggi. Sebelumnya, prosesi wisuda Hafidh semacam itu belum pernah seformal dan sekhidmat seperti layaknya wisuda untuk para sarjana di perguruan tinggi.

Setelah tamat dari Madrasah Aliyah Salafiyah di Pesantren Tebuireng, Ahmad Musta’in kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng. Pada 1979, ia berhasil menempuh program Sarjana Muda Syariah dengan gelar BA (Bachelor of Arts) dengan judul risalah “Mu’amalah di Pantai Paloh”, dan sarjana lengkap, Drs (doktorandus), pada jurusan Syariah pada 1981 dengan judul skripsi “Antara Ibnul Arabi dan Al Qurthubi dalam Ayat Ayat Ahkam dan Ta’ashshub Masing Masing kepada Madzhab Maliki (Sebuah Studi Banding)”. Ahmad Musta’in juga mendapat gelar S.Ag (Sarjana Agama) di IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy’ari) Tebuireng yang menjadi Rayon Kopertais pada IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Ampel, Surabaya, pada 1990. Ahmad Musta’in kemudian melanjutkan studinya ke jenjang S2 Program Studi Aqidah dan Filsafat di IAIN  Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia berhasil meraih gelar M.Ag (Magister Agama) pada 1998 dengan judul tesis “Hadis Kontradiktif (Studi Pemikiran Ibn Qutayba dalam Kitab Ta’wil Mukhtalif al-Hadith)”.

Tag/kata kunci: KHA Musta'in SyafiieMQ TebuirengTafsir
Artikel sebelumnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

Artikel berikutnya

Negara Kesatuan Republik Indonesia Samasekali Tidak Pernah Dijajah

Jatim Net26

Jatim Net26

Artikel Lainnya

Belum Ada Artikel
Artikel berikutnya

Negara Kesatuan Republik Indonesia Samasekali Tidak Pernah Dijajah

Shiddiqiyyah Bangun 1167 Unit Rumah Layak Huni

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Jabar | Net26.id

Jatim | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply