• Terbaru
  • Populer
Foto Koleksi Iskak Wijaya

Pesantren Pun Pernah Punya Tentara

15 September 2022

Buya Syakur dan Buya Husein sebagai Tipikal Intelektual Timur dan Barat

11 Januari 2023
Gambar https://gurupaka.blogspot.com/2019/10/catur-warna-penggolongan-profesi-dalam.html

Sering Dijumpai, Sejarah Nusantara Tak Mengenal Kasta

13 November 2022

Menguak Misteri Hutan Larangan

8 November 2022

Melacak Kesundaan Orang Sunda

4 November 2022
Foto Youtube

Membaca Serat Gatoloco Secara Lebih Obyektif

23 Oktober 2022

Mengenal Kata Santri di Indonesia

21 Oktober 2022

Takutlah kepada Allah, Jangan Takut pada Masjid yang Runtuh

19 Oktober 2022

Tujuh Hari Takziyah Wafatnya Prof Azyumardi

23 September 2022

Dan, Al Azhar pun Berkiblat ke UIN Suka

22 September 2022

Nafsu Primordial dan Desakralisasi Negara

20 September 2022

Membincang Makna Makna Demokrasi

19 September 2022

Prof Azyumardi dan Hak Hak Belajar Santri

18 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Senin, 20 April 2026
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jabar | Net26.id
Beranda Sejarah dan Sastra

Pesantren Pun Pernah Punya Tentara

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
15 September 2022
dalam Sejarah dan Sastra
| Waktu baca 3 menit
A A
Foto Koleksi Iskak Wijaya

Foto Koleksi Iskak Wijaya

138
VIEWS
Foto Koleksi Sejarah Cirebon

Baru baru ini viral lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” sehingga menimbulkan beragam persepsi. Pro dan kontra.

Jaka Tingkir adalah tokoh legendaris dalam wiracarita masyarakat Jawa. Ceritanya pun sering tertulis secara tidak tuntas seperti di dalam “Babad Jaka Tingkir” yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Ceritanya lebih populer tersebar dari mulut ke mulut. Sehingga Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, 1940-2009) secara khusus menemukan makamnya yang terletak Tambakboyo, Lamongan. Berbeda dengan asumsi umum yang menyebutkan makam Jaka Tingkir berada di Butuh, Sragen.

ArtikelLainnya

Prostitusi: Kemiskinan ataukah Gaya Hidup?

26 Agustus 2022
141

Ada Hantu Bondong di Tempatku

25 Agustus 2022
139

Pesantren dan Selebritas Intelektual (Bagian Empat)

25 Agustus 2022
136

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

24 Agustus 2022
140
Tampilkan Yang Lain

Dan, secara khusus, di dalam buku Sejarah Hidup KHA Wahid Hasyim secara jelas disebutkan oleh H Abubakar Aceh silsilah keturunan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari yang masih keturunan langsung Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir sendiri yang tidak benar benar dikenal sejarahnya oleh parasejarawan lebih banyak tumbuh dalam imajinasi sosial masyarakat Jawa. Baik berupa kidung, komik, bahkan dalam langgam yang slenge’an divisualisasikan ke dalam bentuk film laga. Namun, pada masa Gus Dur, tingkah polah slenge’an Jaka Tingkir di dalam senema elektronik tersebut tidak terlalu mengganggu, apalagi muncul komentar dari Gus Dur sendiri. Film cerita tersebut aman aman saja, tidak mendapat protes seperti goyang Inul yang heboh. Intinya, Jaka Tingkir adalah tokoh yang sudah terlanjur melekat di hati rakyat sehingga salah satu keretaapi pun dinamakan Jaka Tingkir.

Asumsi masyarakat Indonesia secara umum di Jawa, apalagi di luar Jawa yang tidak mengenal latar ceritanya, Joko Tingkir tidak ubahnya seorang tokoh legenda selayak Wiro Sableng 212. Karena, dikemas secara budaya dengan mengutamakan jurus jurus silat yang lucu. Namun, ada juga sebagian kidung yang memang dianggap sakral seperti “Sigra Milir”.

Negara Pesantren

Agak menyalahi hukum historiografi jika berbicara tentang militerisme di pesantren. Mungkin, akan ditolak sebelum dijadikan sebuah tesis. Karena, militer dalam asumsi umum adalah pasukan bersenjata api di bawah seorang panglima. Apalagi bila menonton film film berlatar sejarah Romawi dan gladiator. Hanya saja, secara kultur, mungkin cerita cerita film Kung Fu China dapat memberi gambaran yang lebih dekat dan mudah dipahami.

Jaka Tingkir adalah salah satu skuel cerita tentang sejarah militer di pesantren. Semasa muda, ia mendapat pengasuhan di Pesantren Tingkir oleh kawan dekat ayahnya, Ki Ageng Tingkir. Di bawah asuhan Ki Ageng Tingkir dan istrinya, Jaka tingkir tumbuh menjadi remaja.

Dalam cerita cerita yang umum, Jaka Tingkir adalah anak Ki Kebo Kenanga, murid setia Syekh Siti Jenar. Ia tewas dibunuh oleh serangan Sunan Kudus karena dianggap telah menyebarkan ajaran sesat. Di kemudian hari, Jaka Tingkir sengaja berguru kepada Sunan Kudus untuk membalas dendam di samping ia juga berguru kepada Sunan Kalijaga. Sehingga Ketika terjadi geger Demak, Jaka Tingkir memiliki kesempatan untuk membalas dendam dengan membunuh keluarga Arya Penangsang, murid kesayangan Sunan Kudus.

Itu kisah. Di satu versi. Kisah sentralistik yang terpusat di Demak. Bagaimana pun, sejak terbit Babad Tanah Jawi, pandangan masyarakat Jawa menjadi satu. Rajanya satu yang berkuasa di Bumi Jawa.

Memang, disebutkan pula, kalau ayah Jaka Tingkir adalah anak dari Puteri Pembayun, istri Sri Handayaningrat, salah satu raja Majapahit yang berkuasa di Bumi Pajang. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Negarakertagama.

Milisi Kemerdekaan

Masa remaja hingga dewasa. Jaka Tingkir kemudian berangkat mesantren ke Demak melalui sungai Tuntang. Sungai yang berhulu di Gunung Merbabu itu airnya masih tinggi. Masih bisa diarungi oleh perahu hingga masa Perjanjian Giyanti. Karena, pada masa itu, air laut memang tinggi sehingga Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati masih berupa sebuah pulau yang dinamakan Pulau Muria.

Jaka Tingkir berlayar ke hilir hingga bermuara di Demak. Demak adalah negara yang bertempat di delta sungai Tuntang. Tekstur Demak saat itu adalah sebuah kepulauan yang dikelilingi sungai sebagai benteng alam.

Di Demak, Jaka Tingkir mesantren kepada Raden Patah, pengasuh Pesantren Glagahwangi. Di Glagahwangi sudah ada pula Maulana Maghribi yang datang dari Maroko, turut megajar agama. Sebagai Pelabuhan dagang yang ramai, Pesantren Glagahwangi sering dikunjungi pula oleh ulama ulama dari kerajaan kerajaan lain seperti Cirebon, Jepara, Kudus, Lasem, hingga Sedayu dan Surabaya.

Sebutan “Songo” dalam langgam sejarah memang identik dengan angka sembilan. Dalam hitungan “utak atik gatuk”, sembilan adalah angka keramat. Bilangan yang menunjuk pada sesuatu yang dianggap penting. Namun, kata “Songo” lebih dekat pada kenyataan sejarah sosial sebagai sebutan “Sangha”, persaudaraan atau majelis suci. Budaya kaum dharma menyebut diri mereka sebagai “Sangha Buddha”, persaudaraan kaum Buddha. Ada ungkapan referensial yang menyebut kata Sangha ini di dalam tradisi Buddha. Di samping, banyak tumbuh komunitas komunitas pemeluk Buddha yang mendirikan tempat peribadatan berupa candi. Dan, sebutan sebutan nama tempat seperti Sanggam atau Sanggrah (pesanggrahana). Dengan demikian, Wali Sangha adalah sebutan komunitas muslim yang mendirikan perkampungan dengan masjid sebagai pusat kegiatan dalam langgam pesantren.

Sebagai pusat kegiatan dan transaksi, Pesantren Glagahwangi kemudian merupa menjadi sebuah kerajaan. Karena perdagangan dan lingkungan wilayah Demak memerlukan pengamanan, maka disiapkanlah bala tentara darat dan laut. Demikian pula, di wilayah wilayah Amparanjati, Jepara, Kudus, Lasem, Tuban, Sedayu, Sumenep, Surabaya, dan lain lain merupakan pesantren pesantren yang ramai dan merupa seperti kerajaan kerajaan yang memiliki balatentara.

Pada masa Revolusi Fisik, untuk mempertahankan kemerdekaan, tentara tentara pesantren yang pernah dibina oleh Pemerintah Jepang merupa menjadi pasukan pasukan, laskar laskar, atau angkatan angkatan ke dalam divisi divisi yang masing masing di bawah komando seorang kiai yang menjadi panglimanya.

Tag/kata kunci: CirebonDemakKudusLasemSedayusurabayaTuban
Artikel sebelumnya

Bila Hukum Bersumber dari Media Sosial?

Artikel berikutnya

Prof Azyumardi dan Hak Hak Belajar Santri

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

20 Agustus 2022
146

Masyarakat Turats Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, pesantren telah melahirkan banyak pelajar, baik melalui metode  warisan (turats) atau metode yang telah...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Satu)

20 Agustus 2022
150

Pendahuluan Berbicara tentang pesantren sama seperti tentang diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tidak asing. Karena, pesantren hidup dan tumbuh dari kedirian...

Selanjutnya

Beberapa Penerbit Tak Bayar Royalti Penulis

20 Agustus 2022
141

Ada sebagian kelompok yang memang memiliki niatan baik untuk mengangkat harkat dan derajat penulis di Indonesia. Sehingga penulis tetap bisa eksis...

Selanjutnya

Keluarga Pak Salim

19 Agustus 2022
165

Kesederhanaan Pak Salim Akhir-akhir ini, sedang viral nama keluarga Pak Salim yang kebetulan berdomisili di kota kecil, tempat kami tinggal. Tepatnya,...

Selanjutnya

Joko Tingkir Ngombe Dawet

18 Agustus 2022
144

Mungkin, kalimat yang lebih tepat adalah “Joko Tingkir Unjukan Dawet”. Jaka Tingkir minum Dawet. Apa yang salah? Tidak ada yang salah....

Selanjutnya

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

18 Agustus 2022
179

Ada yang bertanya, “Sejak kapankah kesenian ludruk mulai dikenal di Jawa Timur?” Tentu, sebagai salah satu corak kesenian, ludruk mulai dikenal...

Selanjutnya

Diri yang Mendamaikan Dunia

17 Agustus 2022
141

Tema yang diangkat adalah tentang diri. Diri dan jati adalah dua dimensi yang bisa sama, juga bisa berbeda entitasnya. Perlu kecermatan...

Selanjutnya

Film nan Senyap di Tengah Keramaian

17 Agustus 2022
144

Ada banyak adegan dalam kehidupan. Ada yang tereflikasikan ke dalam puisi, prosa, atau drama. Dan, perkembangan teknologi telah menghantarkan pada produksi...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Prof Azyumardi dan Hak Hak Belajar Santri

Membincang Makna Makna Demokrasi

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Inline Feedbacks
View all comments
Jabar | Net26.id

Jatim | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply