
Baru baru ini viral lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” sehingga menimbulkan beragam persepsi. Pro dan kontra.
Jaka Tingkir adalah tokoh legendaris dalam wiracarita masyarakat Jawa. Ceritanya pun sering tertulis secara tidak tuntas seperti di dalam “Babad Jaka Tingkir” yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Ceritanya lebih populer tersebar dari mulut ke mulut. Sehingga Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, 1940-2009) secara khusus menemukan makamnya yang terletak Tambakboyo, Lamongan. Berbeda dengan asumsi umum yang menyebutkan makam Jaka Tingkir berada di Butuh, Sragen.
Dan, secara khusus, di dalam buku Sejarah Hidup KHA Wahid Hasyim secara jelas disebutkan oleh H Abubakar Aceh silsilah keturunan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari yang masih keturunan langsung Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir sendiri yang tidak benar benar dikenal sejarahnya oleh parasejarawan lebih banyak tumbuh dalam imajinasi sosial masyarakat Jawa. Baik berupa kidung, komik, bahkan dalam langgam yang slenge’an divisualisasikan ke dalam bentuk film laga. Namun, pada masa Gus Dur, tingkah polah slenge’an Jaka Tingkir di dalam senema elektronik tersebut tidak terlalu mengganggu, apalagi muncul komentar dari Gus Dur sendiri. Film cerita tersebut aman aman saja, tidak mendapat protes seperti goyang Inul yang heboh. Intinya, Jaka Tingkir adalah tokoh yang sudah terlanjur melekat di hati rakyat sehingga salah satu keretaapi pun dinamakan Jaka Tingkir.
Asumsi masyarakat Indonesia secara umum di Jawa, apalagi di luar Jawa yang tidak mengenal latar ceritanya, Joko Tingkir tidak ubahnya seorang tokoh legenda selayak Wiro Sableng 212. Karena, dikemas secara budaya dengan mengutamakan jurus jurus silat yang lucu. Namun, ada juga sebagian kidung yang memang dianggap sakral seperti “Sigra Milir”.
Negara Pesantren
Agak menyalahi hukum historiografi jika berbicara tentang militerisme di pesantren. Mungkin, akan ditolak sebelum dijadikan sebuah tesis. Karena, militer dalam asumsi umum adalah pasukan bersenjata api di bawah seorang panglima. Apalagi bila menonton film film berlatar sejarah Romawi dan gladiator. Hanya saja, secara kultur, mungkin cerita cerita film Kung Fu China dapat memberi gambaran yang lebih dekat dan mudah dipahami.
Jaka Tingkir adalah salah satu skuel cerita tentang sejarah militer di pesantren. Semasa muda, ia mendapat pengasuhan di Pesantren Tingkir oleh kawan dekat ayahnya, Ki Ageng Tingkir. Di bawah asuhan Ki Ageng Tingkir dan istrinya, Jaka tingkir tumbuh menjadi remaja.
Dalam cerita cerita yang umum, Jaka Tingkir adalah anak Ki Kebo Kenanga, murid setia Syekh Siti Jenar. Ia tewas dibunuh oleh serangan Sunan Kudus karena dianggap telah menyebarkan ajaran sesat. Di kemudian hari, Jaka Tingkir sengaja berguru kepada Sunan Kudus untuk membalas dendam di samping ia juga berguru kepada Sunan Kalijaga. Sehingga Ketika terjadi geger Demak, Jaka Tingkir memiliki kesempatan untuk membalas dendam dengan membunuh keluarga Arya Penangsang, murid kesayangan Sunan Kudus.
Itu kisah. Di satu versi. Kisah sentralistik yang terpusat di Demak. Bagaimana pun, sejak terbit Babad Tanah Jawi, pandangan masyarakat Jawa menjadi satu. Rajanya satu yang berkuasa di Bumi Jawa.
Memang, disebutkan pula, kalau ayah Jaka Tingkir adalah anak dari Puteri Pembayun, istri Sri Handayaningrat, salah satu raja Majapahit yang berkuasa di Bumi Pajang. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Negarakertagama.
Milisi Kemerdekaan
Masa remaja hingga dewasa. Jaka Tingkir kemudian berangkat mesantren ke Demak melalui sungai Tuntang. Sungai yang berhulu di Gunung Merbabu itu airnya masih tinggi. Masih bisa diarungi oleh perahu hingga masa Perjanjian Giyanti. Karena, pada masa itu, air laut memang tinggi sehingga Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati masih berupa sebuah pulau yang dinamakan Pulau Muria.
Jaka Tingkir berlayar ke hilir hingga bermuara di Demak. Demak adalah negara yang bertempat di delta sungai Tuntang. Tekstur Demak saat itu adalah sebuah kepulauan yang dikelilingi sungai sebagai benteng alam.
Di Demak, Jaka Tingkir mesantren kepada Raden Patah, pengasuh Pesantren Glagahwangi. Di Glagahwangi sudah ada pula Maulana Maghribi yang datang dari Maroko, turut megajar agama. Sebagai Pelabuhan dagang yang ramai, Pesantren Glagahwangi sering dikunjungi pula oleh ulama ulama dari kerajaan kerajaan lain seperti Cirebon, Jepara, Kudus, Lasem, hingga Sedayu dan Surabaya.
Sebutan “Songo” dalam langgam sejarah memang identik dengan angka sembilan. Dalam hitungan “utak atik gatuk”, sembilan adalah angka keramat. Bilangan yang menunjuk pada sesuatu yang dianggap penting. Namun, kata “Songo” lebih dekat pada kenyataan sejarah sosial sebagai sebutan “Sangha”, persaudaraan atau majelis suci. Budaya kaum dharma menyebut diri mereka sebagai “Sangha Buddha”, persaudaraan kaum Buddha. Ada ungkapan referensial yang menyebut kata Sangha ini di dalam tradisi Buddha. Di samping, banyak tumbuh komunitas komunitas pemeluk Buddha yang mendirikan tempat peribadatan berupa candi. Dan, sebutan sebutan nama tempat seperti Sanggam atau Sanggrah (pesanggrahana). Dengan demikian, Wali Sangha adalah sebutan komunitas muslim yang mendirikan perkampungan dengan masjid sebagai pusat kegiatan dalam langgam pesantren.
Sebagai pusat kegiatan dan transaksi, Pesantren Glagahwangi kemudian merupa menjadi sebuah kerajaan. Karena perdagangan dan lingkungan wilayah Demak memerlukan pengamanan, maka disiapkanlah bala tentara darat dan laut. Demikian pula, di wilayah wilayah Amparanjati, Jepara, Kudus, Lasem, Tuban, Sedayu, Sumenep, Surabaya, dan lain lain merupakan pesantren pesantren yang ramai dan merupa seperti kerajaan kerajaan yang memiliki balatentara.
Pada masa Revolusi Fisik, untuk mempertahankan kemerdekaan, tentara tentara pesantren yang pernah dibina oleh Pemerintah Jepang merupa menjadi pasukan pasukan, laskar laskar, atau angkatan angkatan ke dalam divisi divisi yang masing masing di bawah komando seorang kiai yang menjadi panglimanya.

























