Kamis, 14/1/2021 yang lalu, melalui status handphone Mas Rulli, saya mendapat kabar bahwa Bu Nyai Farida Yusuf kritis. Mas Rulli menulis; “Saat ini ibu sedang berjuang mengejar Husnul Khatimah. Mohon doanya, mohon maaf dan ridanya”. Dari informasi itu, kemudian, kita sampaikan kepada grup grup alumni MQ untuk berkenan memberikan doa demi kesembuhan dan kesehatan Beliau.
Sabtu malam Ahad, 16/1/2021, seluruh santri berkumpul di Masjid Agung MQ Tebuireng untuk melantunkan doa bersama demi kesembuhan dan kebaikan Bu Nyai Ida. Namun, pada Ahad, 17/1/2021, sekira pukul 12.30, ada informasi Beliau telah wafat, pulang kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Setelah mendengar berita duka itu, saya sampaikan kepada istri, “Kapan kita takziah ke Jombang?” Namun, karena ada beberapa hal akhirnya disepakati, takziah dilaksanakan pada hari Selasa, 19/1/2021.
Berangkat dari Yogyakarta pukul 08.00 pagi.
Suasana masih PSBB, perjalanan Yogyakarta Kartasura relatif lancar. Begitu pula, ketika memasuki gerbang tol Kartosuro Kertosono, lancar jaya. Bebas hambatan, tidak ada satupun polisi di pinggir jalan. Tinggal injak tuas gas dan rem, sambil dengan kewaspadaan tinggi selalu memperhatikan spion kanan dan kiri. Begitu keluar gerbang tol Kertosono, kemudian lewat jalur Jatipelem, muncul sedikit keraguan, saya bilang sama istri; “Kira kira kita nanti diizinkan tidak ya memasuki kawasan MQ?” Karena, mendengar info dari kawan kawan bahwa selama Pandemi Covid-19 ini, kebijakan MQ sangat protektif terhadap tamu dari luar.
Hal itu sangat bisa dimaklumi sebagai ikhtiar agar seluruh warga besar MQ tidak terdampak pandemi. Apalagi plat mobil saya AB, pasti akan dipelototi serius oleh pihak sekuriti MQ. “Bismillah, kita punya niat baik untuk takziah, hormat kepada guru dan seluruh keluarga nDalem. Kalau tidak diizinkan ya tidak apa apa, yang penting sudah punya itikad baik. Dan, tidak lupa nanti kita mampir di Warung Sate Faqih Cukir, kenangan kuliner yang tidak terlupakan,” kata saya kepada istri.
Sesampai di depan pintu gerbang MQ Tebuireng. Dengan sikap sempurna, Pak Sekuriti pun mendekat. “Anda siapa? Tujuannya apa? Apakah sudah janjian?” tanyanya, mencerca.
Saya pun tak mau kalah sigap. “Saya alumni MQ dari Yogya ingin takziah Bu Nyai Farida Yusuf,” jawab saya.
Karena belum diizinkan, dengan suasana dag dig dug, saya coba menelepon Gus Didik, Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran. “Gus, kulo Edy Musoffa, bade takziah, niki sampun teng pintu gerbang MQ.”
Dari ujung sana terdengar suara di handphone, “Nggih langsung mlebet mawon menuju rumah Mas Rahman atau Mas Rully.”
Alhamdulillah, rasanya lega, senang bercampur haru.
Sesampai di nDalem, saya dan istri disambut dengan penuh keakraban dan keramahan, serasa anak yang bertemu dengan orang tuanya, seperti saudara yang sudah sekian lama tidak bersua.
Di nDalem sudah menunggu Pak Rahman dengan seluruh putra putranya: Mas Rully, Mas Ola, Mbak Yuyin, dan Bu Nyai Laily. Tidak lama kemudian, Gus Didik pun rawuh ikut bergabung. Tidak terasa ngobrol melepas rindu dengan berbagai tema, sudah hampir 2 jam berlalu. Saya dan istri pun pamit untuk menuju maqbarah di barat Madjid MQ, yang sudah tampak sangat megah dan asri.
Di maqbarah, kami bersimpuh, mendoakan seluruh keluarga MQ yang sudah wafat, khususnya Ibu Nyai Farida Yusuf, yang meninggal dalam usia 67 tahun. Beliau adalah anak kedua dari putra putri KHM Yusuf bin KH Masyhar. Seluruh anak Kiai Yusuf diantarnya adalah: (1). Hj dr Niniek Nafisah Yusuf. (2). Hj dr Farida Yusuf, (3). H Ir Ahmad Baidlowi Yusuf, (4). H Ir Abdul Ghofar Yusuf, dan (5). KH Abdul Hadi Yusuf SH.
Bagi saya, Ibunyai Farida Yusuf adalah sosok yang sangat peduli kepada santri. Meski Beliau selama ini bertempat tinggal di Surabaya, setiap kali datang ke Tebuireng selalu juga menanyakan tentang kesehatan, asupan gizi, dan kegiatan parasantri. Pada suatu saat, Beliau menyampaikan pesan bahwa; “Pondok Pesantren Madrasatul Quran merupakan sarana inkubasi. Sarana latihan dan riyadhah. Latihan latihan tersebut berupa sikap disiplin dan istiqamah dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan oleh pengurus dan pengasuh pondok pesantren.”
Contoh sikap peduli Beliau yang lain adalah memberi kesempatan kepada beberapa alumni MQ Tebuireng untuk bergabung menambah pengalaman dan kecakapan hidup di Galaindo, perusahaan yang Beliau kelola dengan suaminya, Mas Rahman Marsul. Perusahaan ini berkantor di rumah Beliau di Jalan Kranggan Blauran, Surabaya. Tidak kurang dari 12 alumni MQ Tebuireng yang pernah nyantri di “MQ” cabang Blauran ini.
Kepedulian Beliau kepada pendidikan putra putrinya juga layak menjadi teladan. Meskipun, perjalanan akademik Bu Farida lebih banyak diwarnai dengan pendidikan umum, Beliau terakhir tercatat sebagai lulusan FK UGM Yogyakarta, tapi untuk pendidikan agama bagi anak anaknya mendapat perhatian yang serius dan seksama. Hal itu dibuktikan dengan ketiga anak Beliau saat jenjang SD, SMP, dan SMA sekolah di Takmiriyah dan Al Hikmah, dua lembaga pendidikan Islam favorit di Surabaya. Kecuali, Mas Rully, saat masa SMA sekolah di MAN Insan Cendekia Serpong, Tangerang. Dan, sekarang ketiga putra beliau telah menjadi orang orang hebat di bidangnya. (1) Mas Rully atau Abdul Karim Amrullah, alumni Al Azhar Mesir. (2) Mas Ola atau Sholahuddin Ar Rahmani, alumni FE UI. Dan, (3) Mbk Yuyin atau Zuyyina Chairunnisa, sedang menyelesaikan program S3 FE Unair, Surabaya.
Ya Allah saya bersaksi, bahwa almarhumah Ibu Nyai Farida Yusuf adalah orang baik.
Selamat jalan Bu Nyaiku, engkau akan berkumpul bahagia dengan ayah bunda Jenengan; KHM Yusuf Masyhar dan Ibu Nyai Ruqoyyah di surga Allah. Amin. Al Fatihah.
Yogyakarta, 23 Januari 2021.














