Tidak sedikit orang yang memiliki kekurangan. Kalangan difabel misalnya. Tapi, mereka tetap memiliki semangat untuk bertahan hidup. Dengan tekad, mereka masih bisa melakukan dan menggunakan jasa untuk menghidupi diri sendiri, anak, dan istri.
Dari sini, dapat dilihat betapa Allah Taala telah memberikan kemurahan dan rezeki kepada hamba hambanNya. Maka, alangkah piciknya jika masih dilengkapi dengan kesempurnaan masih saja mengeluh kekuarangan. Padahal, jelas masih ada orang yang kekurangan, termasuk bila telah memasuki usia senja.
Keras Kepala
Sering kita melihat orang sangat keras kepala. Tidak mau mendengar nasihat orang lain. Tapi, bukan itu masalahnya. Keras kepala demikian asalkan diimbangi dengan ketekunan akan membuahkan hasil. Termasuk keras kepala dari kemalasan. Akibat keras kepala pada kemalasan, seseorang akan tetap menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Dalam manajemen yang paling konservatif, keras kepala adalah satu satunya cara untuk menegakkan prinsip. Orang yang keras kepala bukan berarti tidak mau melakukan perubahan perubahan pada dirinya, tapi justru ia masih memiliki cita cita yang tinggi untuk dirinya. Mungkin, standarnya tinggi.
Tapi, tidak demikian juga, keras kepala memang belum merasa cita cita tercapai sempurna. Misalnya, mencanang program jangka panjang, tapi belum mampu menyelesaikan seperempatnya. Artinya, dia memprioritaskan diri untuk mengejar target.
Menyokong Hidup Orang Lain
Setiap orang memiliki keunikan sendiri sendiri. Dengan keunikan yang dimilikinya, ia akhirnya seolah diciptakan terbatas. Misal, di sebuah perguruan tinggi, ada sosok Pak Habib yang biasa mengerjakan beberapa urusan. Mulai dari mempersiapkan jadwal seminar hingga pendadaran. Ia lakukan sendiri, menolak dibantu asisten. Sehingga ia senantiasa berangkat pagi pagi sekali dan pulang paling buncit.
Sementara itu, di sebuah perusahaan, ada seorang akuntan jujur. Ia bekerja sudah puluhan tahun dan sangat dipercaya oleh si bos. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisinya. Pernah, pada suatu waktu, si akuntan diganti oleh orang baru. Tapi, dapat beberapa hari, perusahaan mengalami kerugian besar. Keuangan jeblok. Akhirnya, si akuntan kembali lagi pada posisinya.
Ada banyak orang yang memiliki kepandaian yang tidak bisa tergantikan karena pengalaman. Setiap orang bisa saja melakukan pekerjaan yang sama, tapi bukan berarti ia bisa setangguh orang yang sudah terbiasa menjalaninya. Menulis contohnya!























