Ngawi-jatim.net26.id – Jika bisa berkesempatan singgah di dalemnya, di Ponpes Darul Ulum, Kendal, Kabupaten Ngawi, kita akan disuguhkan alam pedesaan yang khas. Mbah Amin, demikian biasa disapa, akan bergegas menyambut dan menghidangkan secangkir “Kopi Ndeso”. Biasanya, Mbah Amin akan didampingi oleh Pak Huda, santri yang selalu mendampinginya. Kalau tidak ada tamu dari jauh, Mbah Amin akan menghabiskan waktunya ber-tafaquh bersama Pak Huda, “ngawedar kahanan”. Kuliah tingkat tinggi dengan modul acara yang rumit, tapi penuh keakraban.
Jika ada waktu luang, Mbah Amin dan Pak Huda tak jarang pergi berziarah ke makam makam parawali di tanah Jawa. Di situ, mereka sering mampir makan sega pecel di Magetan atau Madiun.
Suguhan Kopi Ndeso yang disajikan oleh Mbah Amin adalah produk dari tetangganya yang membuka industri giling kopi. Mbah Amin sendiri tidak cukup waktu untuk menggiling sendiri karena sibuk mengajar di pesantren warisan ayahnya, KH Imam Yoso Asy’ari. Seorang tokoh agama yang disegani di wilayah Kabupaten Ngawi dan sekitarnya.
Dari kegemaran Mbah Amin dan Pak Huda berziarah ke makam makam parawali dan menyeduh Kopi Ndeso, perhatian keduanya mulai serius tersita pada pengelolaan makam makam. Beberapa makam wali masyhur seperti Wali Sanggha tidak pernah sepi dari aktivitas aktivitas ekonomi yang menghidupi masyarakat di sekitarnya. Mereka membuka pasar yang tak pernah sepi, siang dan malam, dari para peziarah. Ada yang menjual souvernir berupa cinderamata, baju, kopiah, tasbih, minyak wangi, dan kuliner khas daerah. Bahkan, pengelolaan makam tersebut menjadi wewenang untuk pendapatan asli desa oleh pemerintah desa setempat. Untuk makam yang sangat ramai, langsung dikelola oleh pemerintahan kota atau kabupaten. Dengan demikian, makam makam tersebut sering menjadi tempat kunjungan “wisata religi”.
Mbah Amin dan Pak Huda, Rabu, 3/8/2022, sang penikmat Kopi Ndeso, cukup merasa prihatin, karena kopi kopi Ndeso tidak cukup populer di kawasan makam. Memang, ada warung kopinya, tapi menjual kopi sasetan. “Sangat disayangkan,” ungkap Mbah Amin. Para peziarah pasti akan sangat kecewa karena harus menemukan kopi instan. Biasanya, para peziarah yang melakoni sebagai musafir akan berlama lama tinggal di sebuah makam. Bisa berhari hari dan berbulan bulan. Mereka itu rerata penikmat Kopi Ndeso. “Lha, kalau yang disajikan kopi sasetan?” tanya Mbah Amin. “Semestinya, para pedagang yang membuka warung warung kopi di seputaran makam harus peka. Mereka semestinya paham selera para peziarah itu,” lanjut Mbah Amin.
Menurut Pak Huda, “Harus ada keterlibatan pesantren untuk pengelolaan makam makam tersebut, karena pesantren tahu selera apa yang harus disajikan dan apa yang harus dilakukan. Pesantren pesantren terdekat dari makam bisa melakukan kegiatan rutin atau bekerjasama secara ekonomi untuk membuka warung kopi khas Ndeso. Jangan abai begitu saja hingga mematikan selera para peziarah.”
“Sangat disayangkan, peziarah yang ramai dari berbagai penjuru negeri datang jauh jauh, tapi tidak menemukan kopi yang sedap,” sambung Mbah Amin. “Di Ngawi, ada banyak ragam minuman dan makanan khas seperti Cemoe. Itu tidak ada di tempat lain. Belum lagi pecel Madiun atau rawon Jombang. Kita sering mengabaikan hal hal kecil yang bermanfaat,” tukas Mbah Amin.














