Ada yang tidak setuju dengan istilah “kearifan lokal” atau “local wisdom”, entah, dengan alasan apa. Namun, yang jelas, mereka punya alasan. Adapun yang dipentingkan oleh pembaca adalah kemudahan dalam mengerti, bukan kesulitan dalam pemahaman. Menguak misteri hutan larangan adalah bukan melihat hutan dari sudut mistis, melainkan coba memahami makna hutan bagi kehidupan ekologi dunia.
Kerajaan Hutan
Hutan bukan saja kerajaan bagi hewan hewan liar. Hutan adalah penyumbang oksigen terbesar bagi kelangsungan hidup manusia. Semakin dikit hutan, maka semakin menipis oksigen di dunia. Oleh karena itu, hutan adalah penting bagi kelangsungan hidup manusia.
Namun, tidak semudah memutarbalikkan telapak tangan. Hutan sudah mulai kehilangan fungsinya. Dengan kehidupan manusia yang terus membawa persoalan populasi, maka lahan bagi pertumbuhan hutan pun semakin berkurang.
Sebelum manusia membangun kebudayaan dengan tiang tiang kayu dan tembok menjulang, manusia hidup dan tinggal di hutan yang tidak jauh dari tepian sungai. Mereka tinggal di goa goa untuk melindungi dan mencukupi diri. Dan, manusia dianggap mulai beradab ketika perlahan mereka membuka perkampungan dengan tiang tiang dan kayu kayu papan, hingga tembok tembok bata dan keramik. Ketika manusia sudah mengenal kata rumah yang terbuat dari kayu dan tembok, ketika itu pula manusia perlahan meninggalkan hutan. Walhasil, muncullah konsep kota benteng bertembok. Padahal, ketika menguak misteri hutan larangan akan dijumpai kota hutan merupakan bagian penting dari sejarah manusia. Tidak usah jauh jauh, ketika ditanya, “Dimanakah letak istana Sultan Indragiri di Riau atau istana Kerajaan Demak?” Maka, sejarawan yang kurang membaca akan cepat menjawab, “Tidak ada. Kerajaan Demak adalah “hoax” karena tidak meninggalkan jejak istananya yang dibangun.” Padahal, cerita tutur masyarakat senantiasa mengungkapkan kalau Kerajaan Demak itu ada dalam sejarah.
Arkeologi Hutan
Untuk mengungkap sejarah dan budaya yang pernah hidup, salah satunya adalah melalui membuka situs situs arkeologis. Arkeologi tidak lagi bisa dipahami sebagai “arca” atau “reco” dalam bahasa Jawa, tapi lebih dari itu: setiap rekaman rekaman pikiran dan budaya, baik dalam bentuk software maupun hadrware. Perlu diketahui, kata “arkeologi” memang diambil dari kata “arca”, ilmu tentang arca (arch). jadi, sumber sumber pengetahuannya memang digali dari arca. Sedangkan, arca adalah setiap patung yang diproyeksikan oleh hasil tangan manusia.
Oleh karena itu, arkeologi harus pula membuka diri. Menjadi ilmu yang lebih realistis. Artinya, banyak bentuk proyeksi manusia, baik software maupun hardware, kemudian menjadi arca. Dalam pengertian, arca adalah berhala yang sering dijadikan sesembahan. Padahal, arca atau berhala tersebut adalah hasil dari proyeksi budaya tangan tangan manusia. Arkeologi harus mengembangkan diri tidak hanya sebatas arca arca batu saja, tetapi setiap benda yang diarcakan, termasuk buku dan tulisan, adalah berhala. Tinggal lagi, arca arca atau berhala berhala tersebut mau disembah atau hanya sekadar dijadikan pejangan hiasan saja?
Menguak misteri hutan larangan, seorang arkeolog akan diajak berpikir: sumber pengetahuan bukan saja berasal dari arca atau yang diarcakan saja, melainkan setiap pikiran dan data yang bisa diwujudkan (verbatim), baik dalam bentuk cerita maupun proyeksi.
Dengan demikian, hutan adalah rumah atau istana manusia zaman dahulu. Ketika belum muncul bangunan kayu dan tembok. Seorang arkeolog atau penafsir sejarah, sebaiknya juga memperhatikan hutan sebagai historiografi yang tidak tertulis. Meskipun, sudah banyak istilah istilah seperti hutan larangan, hutan suci, atau baprakesywara. Jadi, tidak perlu lagi bagi seorang sarjana bertanya, “Mana referensinya?” Itu pertanyaan yang gagal!

























