Kenangan Warga Pesantren
Harmonisasi antara NU dan Muhammadiyah sudah terjalin sejak awal berdiri. Ketika Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari dikabarkan: di Yogyakarta telah berdiri organisasi Muhammadiyah, beliau bertanya, “Siapa pendirinya?”
Lalu, disebutkan nama KH Ahmad Dahlan.
“O, beliau. Saya tahu,” jawab Hadratussyekh, singkat. Bahkan, secara khusus, Hadratussyekh mengutus santrinya, KH Muhammad Basyir untuk memperkuat jajaran perjuangan Muhammadiyah dalam menentang kebijakan kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang tidak prorakyat, terutama di bidang pendidikan. Belakangan, diketahui: KH Muhammad Basyir adalah ayah dari KHA Azhar Basyir (1928-1994), ulama kharismatik Muhammadiyah.
Tidak sedikit pembesar pembesar Muhammadiyah yang kemudian menjalin kerjasama antarorganisasi dengan NU seperti KH Kahar Muzakkir ketika mendirikan kementerian Agama dan IAIN, Buya Hamka, KH AR Fakhruddin, Prof Ahmad Syafii Ma’arif, dan terakhir Prof Azyumardi Azra. Masih banyak nama tokoh tokoh Muhammadiyah yang akrab dengan warga NU yang tak bisa disebutkan satu persatu.
Pembunuhan karakter terhadap pesantren beberapa bulan terakhir telah mengantarkan sosok Prof Azyumardi berada di garis depan. Dengan tegas, ia membela hak hak belajar santri di tengah tengah tanggapan minor terhadap pesantren yang diberitakan di berbagai media.
Prof Dr Azyumardi Azra adalah sosok moderat (washatiyah) yang tekun mempelajari tradisi ulama dan pesantren. Dari ketekunan itu, ia merampungkan disertasi yang kemudian dibukukan.
Dalam kenangan KH Muhammad Sholeh Qosim, ulama pesantren dari Sidoarjo, Jawa Timur, disebutkan; “Ikut berduka cita atas wafatnya Prof Dr AZYUMARDI AZRA intelektual Muslim terkemuka yang moderat, toleran, salah seorang putra terbaik bangsa Indonesian, yang konsisten memperjuangkan harmoni dan merawat kebhinnekaan,” tulisnya di akun facebooknya, Rabu, 21 September 2022. “Doa kita untuk beliau, Al-Fatihah!”
Secara khusus, kiai sepuh Cirebon, Abah Husein Muhammad, menulis sebuah kenangan di akun yang sama, Selasa, 20 September 2022, dengan judul “Pertemuanku dengan Prof. Azyumardi Azra: Sebuah Kenangan indah.”
Abah Husein Muhammad menceritakan pertemuan akrabnya dengan Prof Azyumardi Azra yang wafat di Selangor, Malaysia, dan dikebumikan pada hari Selasa, 20 September 2022, di Kalibata. Prof Azyumari dalam pandangan Abah Husein adalah sosok yang hangat dan bersahabat. Tidak kurang dari tiga kali pertemuan dalam forum forum ilmiah. Pertama, ketika sama sama membedah buku karya Prof. Dr. Oman Fathurrahman, “Ithaf al Dzaki: Tafsir Wihdah al Wujud Muslim Nusantara”,di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. “Prof Azyumardi berbicara tentang Jaringan Ulama Nusantara dengan fasih. Ia begitu menguasai pengetahuan tentang para sufi Nusantara, cerdas dan mengesankan. Aku banyak memeroleh pengetahuan tentang jaringan ulama sufi dan pergulatan intelektual mereka.” Tulis Abah Husein. “Pa Azyu, menggenggam tangan saya dan memberi apresiasi hangat atas komentarku pada buku itu sambil tersenyum manis.”
Kedua, ketika memenuhi acara Annual International Conference on Islamic Studies. Pada tanggal 20-24 Nopember 2017, di BSD. “Pertemuan itu dihadiri lebih dari 400 Intelektual dalam dan luar negeri. Aku diundang sebagai pembicara. Di sana aku duduk dalam deretan intelektual par excellence Indonesia Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. Amin Abdullah dan Prof. Dr. Nasaruddin Umar. selain sejumlah intelektual lain yang tersohor,” tulis Abah Husein, lagi. Pada kesempatan itu, “Pa Azyu dan pa Amin berbisik dengan kata-kata yang membuat aku senang dan percaya diri. Ini karena aku tak punya titel kesarjanaan tertinggi seperti mereka. Kalau boleh dibuka bisikan mereka : ‘Anda seorang kiyai yang berani bicara pembaruan pemikiran. Tak banyak orang seperti anda.”
Dan, pertemuan ketiga pada saat seminar di Universitas Hasyim Asyari, Tebuireng, Jombang, bertema “Tren Riset dalam Memperkuat Eksistensi Pendidikan Islam dan Hukum Keluarga di Era 4.0”. Pada tanggal 09/2/2020. “Prof. Azyu bicara lebih dulu. Aku mendengarkan. Ia bicara tentang lemah dan mahalnya riset ilmiyah pada perguruan Tinggi Islam. Mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebutkan juga bahwa perguruan-perguruan tinggi NU itu harus segera dikonsolidasikan dengan PBNU. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan karena dari 34 Universitas NU yang ada sekarang ini masih belum semuanya yang berkembang. Sekarang ini ada 34 Universitas NU, saya mengusulkan agar semua universitas ini segera dikonsolidasikan karena masih belum berkembang semuanya,” tulis Abah Husein. Pertemuan demi pertemuan meninggalkan kesan yang baik di antara dua sahabat berbeda organisasi itu. “Pak Azyu tersenyum. Aku senang, dan kami berjabat tangan erat-erat. Aku melihat bajunya sederhana saja. Ya Pa Azyu memang intelektual yang rendah hati dan bersahaja,” ungkap Abah Husein. “Selamat Jalan pa Azyu. Tuhan menyambutmu dengan riang, sahabatku.”













