Tema yang diangkat adalah tentang diri. Diri dan jati adalah dua dimensi yang bisa sama, juga bisa berbeda entitasnya. Perlu kecermatan dan spiritualitas yang terlatih untuk memahaminya. Bisa diceritakan, tapi alangkah baiknya disembunyikan. Cukup diri yang tahu. Karena, tidak semua harus ditampilkan, kecuali hanya mengumbar fitnah dan pengingkaran. (red.).
Melawan Diri Sendiri
Air mineral yang biasa diminum mereka habis. Aku bergegas menuju sepedamotorku untuk membeli. Mereka kehausan, katanya. Tidak tega kalau melihat wajah mereka yang sendu karena berharap air gratisan itu. Mereka sedang tadarus, mungkin wajar bila haus.
Jalanan ramai. Lalu lalang kendaraan silih berganti. Pejalan kaki juga tak henti menepi. Semua terlihat bergerak. Padahal beberapa menit lalu, aku memandang tadarus malam ini sepi. Hanya segelintir anak yang datang.
Teringat dawuh almarhum KH Husnan Nafi’ Al Hafidh, “Mene nang akherat iku koyok nang bungkul (makam Sunan Bungkul Surabaya) iki le, sing nang makam ngaji sepi. Sing nang njobo rame.” Besok di akhirat kata beliau, penghuni surga itu damai (sepi), sedangkan neraka dihuni dengan riuh teriak mereka yang sedang disiksa. Dawuh ini bukan sebuah legitimasi tunggal bahwa yang sedang mengaji itu baik dan yang tidak belum baik. Hanya saja, saya melihat dari sisi bagaimana manusia selalu memandang sempit setiap masalah yang datang kepadanya. Uang di dompet berkurang, maka pikiran manusia seakan menyebutkan banyak hal dibaliknya. “Ah, uang tinggal sedikit, bagaimana ini?” atau “Rezekiku kalau begini begini saja bagaimana ini besok?”
Pernyataan dan fikiran yang menyempitkan pola pikir, juga merupakan penghambat manusia untuk lebih obyektif melihat semua kejadian di dunia. Maka, benar ketika Rasulullah saw menyatakan, hati adalah prosesor manusia. Dari sanalah, semua diproduksi. Diatur. Dan, mampu mengendalikan dunia.
Jadi, jika detik ini ada yang kita anggap masih sedikit, maka sebenarnya bukan sesuatu itu yang sedikit, tapi kita yang berpikir hal itu memang sedikit. Seperti memandang satu detik itu tidak berharga, padahal bagi pelari maraton, itu adalah pembeda bagi seorang pemenang dalam sebuah ajang olimpiade.
Semoga, mereka yang setiap detik bertarung dengan “dirinya”, selalu diberikan petunjukNya. Karena sifatNya adalah Al Huda, Sang pemberi petunjuk.
اللهم اجعل الدنيا في ايدينا ولا تجعل الدنيافي قلوبنا
3 Agustus 2022.



























